Selasa, 24 Maret 2015

'Sweet Bad Dream' Part 2 (From Facebook Fanspage Andrea's Story)

‘Sweet Bad Dreams’
Part 2
_____________________________
When you feel my heat
Look into my eyes
It’s where my demons hide
It’s where my demons hide
~Imagine Dragon ‘Demons’~
***
(namakamu) terdiam, ia tahu berdebat dengan Iqbaal tidak akan membuat pria itu membukakan pintu untuknya. “Terus mau lo apa, hah?”
“Gua mau lo.”
“Iqbaal, gue ini anak baru di sekolah. Gue cari ruangan kepala sekolah, bukan gudang kayak gini. Dan stop basa-basinya, kalo lo mau uang, gue bisa ngasih berapa pun. Tapi ga gini caranya...” terdengar (namakamu) mendengus kasar.
Iqbaal merasa dadanya sakit karena gadis itu merendahkannya dengan kalimat ‘kalo lo mau uang’. Pria itu memang badboy, tapi bukan berarti ia meminta-minta uang pada orang lain. Maka, ia segera memutar kuncinya kembali, lalu membukanya pintunya lebar-lebar.
Pria itu menghadang (namakamu) yang akan keluar di ambang pintu. Ia merentangkan tangannya dan menatap gadis itu dengan tajam.
(namakamu) menahan nafasnya saat wajah Iqbaal kelihatan marah, dan rahang bawahnya yang mengeras. Gigi Iqbaal bergemelutuk siap menyemburkan kemarahan, namun ia tahan.
“Gua mau lo... ga usah sok jual mahal di depan gua.”
“Gue—“
Iqbaal menaruh telunjuknya di depan bibir (namakamu) dan tatapannya semakin tajam menyelidik ke arah gadis itu.
“Dan lo gausah ngerayu gua pake uang, karena uang bukanlah segalanya, nona (namakamu).”
Belum sempat (namakamu) membalas ucapan Iqbaal, pria itu sudah melangkah menjauh sembari menenteng skateboardnya. Pria itu mendatangi seorang gadis berambut pirang yang sedang berjalan seorang diri, dan tiba-tiba saja ia melingkarkan tangannya di bahu gadis itu.
Awalnya si pirang itu terkejut, namun wajahnya berubah merona saat Iqbaal mengedipkan sebelah mata padanya. Ia juga tersenyum manis.
“Ke kelas bareng ya, sayang?” ucap Iqbaal pada gadis pirang itu.
“Okay...”
Gadis itu balas merangkul pinggang Iqbaal, dan menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. Mereka pun berjalan meninggalkan (namakamu) yang hanya bisa menatap mereka dengan mulut terbuka setengah.
“Ternyata, gue bukan satu-satunya.” Lirih (namakamu) sembari menutup pintu gudang itu.
“dia itu badboy. Jadi perlakuan dia ke setiap cewek yang menurut dia memikat, bakal sama-sama romantis. Dan dia ga bakal ngejalanin satu hubungan pun dengan serius, so... gue ga boleh suka sama dia.”
(namakamu) akhirnya berjalan seorang diri, mencari ruangan kepala sekolah dengan bekal instingnya. Tidak ada satu orang pun yang dapat ia percaya, bisa-bisa mereka semua sama seperti Iqbaal. Namun, baru beberapa meter gadis itu melangkah, ada dua orang gadis yang mendatanginya dengan senyuman.
Yang berkepang satu berucap lebih dulu, “Siswi baru kan?”
“Ya.”
“Ditunggu di ruang kepala sekolah. Ikutin kita aja, ya?” ucap gadis yang rambut hitamnya tergerai.
(namakamu) memang berjalan mengikuti mereka, mungkin perempuan jauh bisa lebih dipercaya. Tapi pikirannya kembali melayang-layang pada sosok Iqbaal.
Bagaimana bisa pria itu menyita perhatiannya saat ini? Bagaimana mungkin (namakamu) bisa berpikir bahwa dia ‘ingin lebih spesial di mata Iqbaal’? Dan kenapa setiap pria itu tersenyum pada gadis lain, (namakamu) merasa ingin marah?
‘Ga. Perasaan gue ke dia sekarang ini bukan cinta pada pandangan pertama, gue cuma...’
“Ini ruangannya. Kalo lo mau, kita bisa jadi temen kok. Gue Bella, dan dia Cassie. Salam kenal, (namakamu).”
‘Ya. Gue yakin gue cuma merasa tertantang buat naklukin hati dia, dan dalam hitungan minggu, gue bakal menangin tantangan itu. Gue bakal taklukin dia.’
Tanpa berucap terima kasih atau tersenyum, (namakamu) meninggalkan keduanya. Ia tidak peduli lagi seandainya ruangannya salah, yang jelas tidak ada lagi Iqbaal disekitarnya.
Dan nyatanya ruangan ini benar-benar ruangan kepala sekolah, karena ada sebuah meja dengan tulisan ‘Mrs. Anne/ Head Office’ diatasnya. Di samping itu juga ada berkas-berkas kepindahan sekolah (namakamu) yang langsung dikenali oleh gadis itu sendiri.
Wanita itu tersenyum, “Kesini, (namakamu). Kamu udah bisa masuk ke kelas sekarang juga, dan diantar sama dia."
“Dia siapa, bu?” tanya (namakamu) sembari berjalan mendekat ke arah meja kepala sekolah.
“Dia ketua kelas yang menjadi kelas kamu nanti.”
(namakamu) membulatkan mulutnya. Dihadapan wanita itu ada seorang pria yang duduk dengan punggung tegak dan salah satu kakinya naik ke atas kursi yang lain. Sepatunya putih bertali merah, dan sepertinya ada yang tidak asing dari pria itu.
(namakamu) berjalan makin dekat, lalu pria itu pun menoleh dengan seringaian yang tajam. Haruskah (namakamu) terkejut dan menahan nafasnya?
“Selamat datang di sekolah ini, nona (namakamu). Seneng bisa ketemu lo setiap hari, karena...”
Iqbaal berdiri dan menyentuh pundak gadis itu berpura-pura hangat. “gua udah pastikan kita satu kelas dan duduk sebelahan.”
***
"Minggir lo, kebo busuk!"
Iqbaal benar-benar mengusir pria malas yang duduk di sebelahnya, lalu ia menaruh tas (namakamu) dengan lembut di kursi itu. Mereka duduk sebelahan dan menjadikan siswa satu kelas ini memandang (namakamu) intens.
Mungkin mereka berpikir bahwa siswa baru ini punya hubungan khusus dengan Iqbaal. Bahkan ketika ingin duduk saja, Iqbaal menarik kursi untuk gadis itu dan tersenyum manis.
"Silahkan duduk, tuan putri (namakamu)."
(namakamu) hanya memutar mata, beberapa detik kemudian ia merasakan Iqbaal mendudukkan diri di kursi sebelahnya dengan tidak santai. Gadis itu memilih untuk memperhatikan seisi kelasnya lebih dulu.
Semua dindingnya tecat biru muda. Terdiri dari 18 pasang meja, dan tentu saja siswanya berjumlah 36 orang. Ada meja guru di dekat papan tulis, lemari di dekat pintu, proyektor dan layarnya.
Alat-alat kebersihan di sudut belakang, pendingin ruangan di atas jendela, jam dinding, dan yang terakhir adalah foto ketua kelas itu sendiri. (namakamu) mendengus, di sebelah foto itu ada karton besar bertuliskan ‘Peraturan dari raja kelas’.
“Kalo lo mau baca peraturannya nanti aja... lagipula gua mau kok kalo disuruh ngejelasin semua peraturannya sama lo.”
“Sorry, gue ga butuh.”
“Sayangnya, salah satu peraturan di kelas ini adalah ‘Setiap bawahan harus mau mendengar ucapan sang raja’ jadi, lo harus mau dengerin apapun yang gua omongin.”
“Lo mau gue pindah tempat duduk?” (namakamu) menatap Iqbaal tajam.
Pria itu mengangkat bahunya sembari tersenyum miring. “Lo pindah, gua juga bakal pindah.”
Iqbaal memutar tubuhnya menghadap ke belakang, sementara (namakamu) hanya melirik pria itu dengan mata menyipit. Ada seorang pria yang duduk tepat di belakang (namakamu), ia kelihatan dingin dan terus-terusan menatap layar ponsel.
Sementara di sebelah pria dingin itu ada seorang gadis, dan... dialah si pirang yang tadi Iqbaal rangkul.
‘Iqbaal gila kali ya! Dia berusaha deketin gue sedangkan pacarnya sendiri duduk dibelakangnya?’ (namakamu) mengumpat dalam hati. ‘ga lama lagi, pasti gue bakal kena masalah.’
“Sha, kalo ada huruf P, U, T, U lagi, terus S... dibacanya apa?”
“Putus.”
“Pinter! Berarti lo udah tau maksud gua kan?”
Salsha menggebrak meja dengan keras, membuat seisi kelas menoleh ke arahnya—kecuali pria dingin di sebelahnya itu. (namakamu) ikut menoleh ke belakang, ia tidak habis pikir dengan pria yang disebelah Salsha.
Entah telinganya tidak berfungsi, tidak ingin ikut campur, atau otot refleksnya lenyap, yang jelas pria itu tidak bergeming sama sekali.
“Lo minta putus sama gue, Baal? Hei! Gue ini cewek high class, udah cocok banget sama lo, Baal. Kenapa lo mutusin gue? Kita baru sehari pacaran, dan kemaren lo bilang lo ga bakal jadiin gue cinta satu harinya lo, tapi kenapa lo mutusin gue seenaknya gini?”
“Gua bosen sama lo, Sha.”
Salsha berdiri dan menatap Iqbaal tidak percaya. “APA? Baru satu hari kita resmi jadian, dan lo udah bilang bosen?"
"Lo kan belum ngerasain gimana gue manja-manja sama lo, bawelin lo, ngedate sama lo, cium lo, gimana bisa lo bilang bosen sama gue?”
“Gua ga mau ngerasain itu dari lo, Sha. Intinya, lo udah ngucapin kata ‘putus’ tadi. Berarti kita udah putus, okay? Dan inget peraturan kelas ini tentang ‘Kalo raja kelas bilang okay, berarti bawahannya harus jawab okay juga’”
Salsha terlihat marah, wajahnya sudah benar-benar merah padam. Saat tangannya terangkat ke atas hendak menampar Iqbaal, pria di sebelahnya itu menahan tangannya dan menatap gadis itu datar.
Inilah pertama kalinya (namakamu) melihat pria itu bereaksi. Mata sipitnya melirik Iqbaal dengan remeh.
“Percuma lo tampar dia." ucapannya dingin dan menusuk.
"Seharusnya lo tampar diri lo sendiri supaya nyadar dari awal kalo dia itu emang cowok yang puas sama cinta satu hari. Katanya lo high class, berarti lo ga sudi ngotorin tangan lo sendiri untuk tampar dia.”
Iqbaal tersenyum miring lagi, ia menatap Salsha seolah tak ada salah sama sekali. Tapi itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja, pria dingin itu melayangkan kepalan tangannya ke rahang bawah Iqbaal. Pria itu mengaduh, dan sekarang Salsha-lah yang tersenyum miring.
“Kenapa lo nonjok gua, Ald?” Iqbaal menggebrak meja Aldi dengan tatapan marah.
Pria itu memejamkan matanya, lalu berucap. “Itu cuma balasan dari gua, karena lo udah mutusin mantan kesayangan gua secara cuma-cuma.”
***
“Kakak pulang, Steff!”
Iqbaal pulang ke rumah dan disambut pelukan hangat oleh Steffi. Setelah menaruh skateboard kakaknya di sebelah rak sepatu, Steffi menggamit lengan pria itu menuju ruang TV.
Disana sudah terputar film kesukaan Iqbaal, lalu di mejanya ada es jeruk yang menggiurkan, dan beberapa cookies cokelat buatan Steffi. Steffi sudah berganti pakaian, ia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana abu-abu selutut.
Iqbaal pun membuka kancingnya satu persatu sembari duduk di sofa. Steffi yang duduk di sebelahnya terus memperhatikan kakaknya yang sedang kepanasan itu. Setelah seluruh kancingnya terbuka, Steffi dapat melihat dada Iqbaal yang bidang terbentuk di kaos merah—yang pria itu kenakan dibalik kemeja sekolahnya.
“Panas banget ya, Steff? Apa AC-nya belum dinyalain?”
“Udah dinyalain kok, kak. Mungkin belum begitu kerasa, soalnya kan kak Iqbaal abis panas-panasan naik skateboard.”
“Kipasin aku dong, Steff. Aku mau curhat sekalian nih,”
“Curhat tentang cewek?”
“Iya.”
Steffi mengambil buku tipis di laci meja, ia menggunakan buku itu untuk mengipasi Iqbaal. Pria itu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa sembari memejamkan mata karena lelah.
Dilihat lebih teliti lagi, ternyata ada warna kebiruan di rahang bawah Iqbaal. Steffi mengernyit, apakah kakaknya itu berkelahi lagi? Apa penyebabnya kalau bukan karena seorang perempuan?
“Kakak berantem lagi?”
“Ga, cuma kepentok meja tadi di sekolah.”
“Ga boong kan?”
Iqbaal membuka matanya, lalu mengelus-ngelus puncak kepala Steffi. “Okay, aku jujur. Aku ditonjok gara-gara aku mutusin cewek secara sepihak dan kecepetan.”
“Siapa ceweknya, kak?” Steffi langsung antusias.
“Salsha, dan yang nonjok aku itu Aldi.”
“Gapapa deh kakak ketonjok, asalkan udah putus sama kak Salsha. Kan aku udah bilang kak, jangan pacaran dulu deh."
"Cewek zaman sekarang itu banyak yang cuma main-main, mereka cuma mau pamournya naik, nambah jumlah mantan, terus nyakitin sebelum disakitin. Tapi aku seneng karena kak Iqbaal udah berhasil mutusin dia sebelum dia nyakitin kakak.”
Senyuman Iqbaal terlihat jahil, “Jangan-jangan kamu termasuk cewek yang kayak gitu, ya? Hayooooo” telunjuk pria itu menoel hidung mancung Steffi.
“Ish, ga mungkin lah aku kayak gitu! Kalo seandainya iya, aku udah nyakitin hati kakak dari dulu, ninggalin kakak, atau pura-pura jadiin kakak pacar di depan mantan aku. Aku ga mau kakak terluka sama siapapun...”
‘Kecuali sama aku.’ Lanjut Steffi dalam hatinya.
“Perhatian banget sih Steffi kesayangannya kak Iqbaal ini,”
“Cium dong, kak hahahahaha”
Steffi awalnya hanya berucap main-main, tapi Iqbaal menganggapnya serius. Maka pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Steffi dan menempelkan bibirnya di dahi gadis itu. Dalam hati, Steffi menginginkan ciuman itu turun ke bibirnya, sayangnya Iqbaal kembali duduk seperti semula dan memakan cookies cokelat.
“Kakak katanya mau curhat?”
“Oh iya, jadi lupa.” Iqbaal menepuk dahinya pelan.
“Jadi gini, aku ketemu lagi sama cewek yang waktu itu surfing bareng aku. Aku ngerasa aku perlu suka sama dia, dan harus bisa buat dia suka balik."
"Makanya tadi aku ga ragu-ragu buat mutusin Salsha, karena aku tau cewek baru itu bisa ngebuat aku lebih seneng. Kira-kira, dia bakalan suka sama aku ga ya, Steff?”
“Sifatnya kayak kak Salsha?”
“Engga. Dia itu suka nipu perasaan. Awalnya buat aku seneng, tapi ujung-ujungnya dia bilang dia cuma boong."
"Suka sok jual mahal, dan ga keliatan tertarik sama kakak. Tapi dia fashionable banget, dateng ke sekolah aja pake kacamata sama mobil sport.”
“Penampilan bisa nipu, kak. Itu udah jadi bukti awal kalo dia emang ga bakal cinta sama kakak, cewek kayak gitu jangan ditaksir, kak. Bisa aja suatu hari dia bilang cinta ke kakak, terus pas mau putus dia bilang kalo selama ini dia boongin kakak. Mendingan kakak cari cewek yang kayak aku...”
“Kok kayak kamu? Kan ga mungkin aku cinta sama adik aku sendiri, Steff. Ah udahlah,”
Iqbaal kembali menelan cookies-nya. “lagipula masih ada hari-hari selanjutnya buat aku naklukin dia. Kamu tinggal tunggu kabar baiknya aja ya, Steff.”
“Tapi kalo cewek itu—“
“Engga kok. Seandainya aku patah hati, kamu tau kan sama siapa aku bakal curahin semuanya?”
Steffi mengangguk sembari tersenyum lebar. “Udah pasti sama aku.” Ucapnya dengan penuh percaya diri dan Iqbaal hanya tersenyum untuk jawaban dari gadis itu.
***
(namakamu) datang lebih pagi daripada Iqbaal, ia tidak ingin melihat pria itu mengendarai skateboardnya sampai di kelas.
Tapi mau bagaimana pun juga, akhirnya ia melihat pria itu mengendarai skateboardnya dan berhenti ketika sampai di tempat duduknya. Kelas masih lengang, baru terisi oleh pria sedingin es itu, (namakamu), dan juga Iqbaal.
Lagi-lagi si es sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat culun dengan pakaian pramuka-nya itu, karena ia memasukkan ujung kemejanya ke dalam celana. Berbeda jauh dengan Iqbaal yang sudah seperti siswa ingin tawuran.
Dari bawah lebih dulu. Sepatu pria itu sama sekali tidak ditali, jadi ia bisa terjatuh kapan saja jika ada yang menginjaknya. Lalu kaos kakinya malah berwarna putih, celana cokelat panjangnya digulung sampai sebatas lutut.
Kemejanya dikeluarkan dengan beberapa kancing atas terbuka, memperlihatkan kaos putih yang ia kenakan. Dasi merah putihnya ia gunakan sebagai ikat kepala, dan kantung kemejanya ia gambar tengkorak dengan spidol merah.
“Woi, (namakamu)!” panggil pria itu.
(namakamu) tidak menoleh, ia menatap lurus ke arah papan tulis yang kosong. “Siniin buku bahasa inggris lo, ada PR kan?”
Gadis itu tetap diam, tapi pria di belakangnya jadi memperhatikan perbincangan keduanya. “Lo pura-pura ga denger atau kuping lo ga bisa nangkep suara cowok ganteng? Kalo lo ga mau ngasih, gua yang bakal ngambil sendiri.”
Iqbaal tidak memberikan (namakamu) kesempatan untuk menjawab, pria itu langsung mengambil tas gadis itu dan mengambil buku yang ia maksud.
(namakamu) mencoba menggapai bukunya, tapi Iqbaal langsung berlari secepat mungkin keluar ruangan. Gadis itu menggeram, ia balik mengambil tas Iqbaal dan mencari buku bahasa Inggris milik pria itu.
Nyatanya tidak ada, berarti pria itu tidak bermaksud meminjam bukunya untuk disalin, lalu apa niatnya? Apakah pria itu akan mengganti nama (namakamu) dibuku itu menjadi nama Iqbaal?
“Gua tau apa yang bakal dia lakuin.” Pria dingin itu bersuara. “dia bakal robek buku lo, terus masukkin ke tempat sampah. Dan pas ditanya PR sama guru, dia bakal nunjuk lo ga bawa dan dengan senang hati dia bakal bilang kalo dia juga ga bawa.”
(namakamu) menatap pria sipit itu dengan intens, “Maksud dia kayak gitu apa sih?”
“Dia mau dihukum bareng lo, bodoh.”
Bersambung...
***
@Febyanti_R

'Sweet Bad Dream" Part 1 (From Facebook Andrea's Story)

‘Sweet Bad Dreams’
-PROLOG-
________________________
-02 Maret 2009-
“Iqbaal, Steffi! Kalian harus cepet pergi dari pulau ini, mama ga mau kalian ketangkep sama mafia-mafia itu!” seorang wanita berteriak dengan histeris.
Anak laki-laki yang menggenggam tangan adik perempuannya itu kelihatan ragu. “Gimana sama papa dan mama? Iqbaal gatau harus kemana, Iqbaal takut, ma!” suaranya terdengar bergetar.
“Kamu sama Steffi naik aja kapalnya! Nanti disana kalian bakal ketemu sama kenalan papa! Kamu harus jadi pemberani, Baal. Apapun yang terjadi nanti, Iqbaal tetaplah anak lelaki kesayangan papa dan mama.”
“Pa, Ma... Iqbaal ga mau pergi ninggalin kalian.”
Mama Iqbaal mendekat, lalu merangkul bahu kedua anaknya. Debur ombak di tepi pantai menyentuh kaki mereka, seolah mengucapkan bahwa Iqbaal dan Steffi harus segera pergi.
Belum lagi sebuah kapal kecil yang tadi berlabuh di dermaga pantai sudah hampir pergi lagi. Ada seorang pria berkemeja lengkap dengan dasinya menatap Iqbaal dan Steffi dari dek kapal—ialah kenalan papa Iqbaal yang akan menjaga mereka.
“Kalo Steffi kangen sama papa mama gimana?” anak perempuan itu akhirnya bersuara, air mata sudah mengalir di pipinya.
Papa Iqbaal ikut mendekat, lalu ia mencium dahi kedua anaknya bergantian. “Cukup lihat ke langit dan tersenyum, nak.”
“Sekarang, kalian harus bener-bener pergi.”
“Suatu saat, kalau Tuhan mengizinkan, kita pasti ketemu lagi, sayang...” mama Iqbaal pun akhirnya menangis ketika mendorong punggung kedua anaknya menjauh.
Iqbaal akhirnya tidak mau menoleh lagi ke arah kedua orang tuanya, karena itu akan menyakitkan hatinya. Ia tidak bisa lagi bertemu dengan kedua orang tuanya karena mafia-mafia jahat itu mengejar mereka.
Satu-satunya permintaan dari kedua orang tuanya adalah agar mereka pergi dari pulau ini dan ia harus jadi pemberani. Agar mereka selamat, agar hidup mereka masih bisa berlanjut.
Air mata Iqbaal akhirnya jatuh. Ia terus menarik tangan Steffi yang kelihatan begitu tenang walaupun air matanya mengalir. Iqbaal tidak bisa memikirkan hal itu, mungkin Steffi kelihatan tenang karena dia belum mengerti. Steffi baru berumur tujuh tahun sementara dirinya sudah berusia sepuluh tahun.
'Iqbaal bakal jadi pemberani sekaligus jadi kakak terbaik bagi Steffi demi papa dan mama. Iqbaal janji sama kalian, love you, pa, ma.' batin Iqbaal berucap.
Tanpa perlu Iqbaal dan Steffi lihat, dibelakang sana kedua orang tua mereka sudah menghilang. Mereka diseret secara paksa oleh beberapa pria berpakaian serba hitam dengan headclip dan kacamata hitam. Dan ada sesuatu juga yang Iqbaal tidak perlu tahu mengenai isi hati Steffi.
Wajah anak perempuan itu merona cerah saat Iqbaal masih menggenggam tangannya walau mereka sudah sampai di kapal. Lalu mereka berdiri di besi pembatas bersama kenalan papa mereka itu.
Tiba-tiba saja Steffi mendongak ke arah Iqbaal yang menatap lurus ke pantai hampa tanpa orang tua mereka. Dan kemudian, gadis itu menyentuh dadanya sendiri karena ada sesuatu yang berdegup kencang disana.
“Steffi cinta kak Iqbaal. Sampe besar nanti kak Iqbaal ga boleh jatuh cinta sama cewek lain, karena cuma Steffi cinta sejati kak Iqbaal. Dan untuk selamanya, Steffi ga akan pernah ngelepasin kak Iqbaal dari genggaman Steffi.” Lirih gadis itu tanpa ada satu orang pun yang mendengar.
Ia meremas jemari Iqbaal meski anak laki-laki itu tidak merespon, lalu ia kembali berlirih. “Selamanya, kak Iqbaal bakalan jadi milik Steffi.” Janjinya pada diri sendiri.
***********************************
‘Sweet Bad Dream’
Part 1
______________________
-09 Desember 2016-
"Jangan jatoh, jangan jatoh. Kalo gua jatoh, ikan-ikan disini bakal nyiumin bibir gua dong!"
Seorang pria sedang berusaha menjaga keseimbangannya diatas papan surfing. Maklum saja, dia belum mahir menggunakan papan surfing itu karena papan yang biasa ia gunakan sedang dipakai pengunjung lain.
Iqbaal adalah tipe pemilih, jadi ia bisa mahir surfing tergantung dari kuat atau mahalnya papan yang ia gunakan. Bukan mahir karena ia memang mempelajari surfing dengan tekun.
Ombak di sore hari tidak berdebur besar, jadi Iqbaal berani surfing hingga ketengah-tengah lautan. Selain dia, ada orang lain yang asik surfing digulungan ombak tak jauh darinya.
Dilihat dari pakaiannya yang nyaris seperti bikini, Iqbaal yakin jika seseorang itu adalah gadis yang cantik. Belum lagi rambutnya yang terkuncir satu kebelakang, namun menyisakan poni yang beterbangan.
'Gua udah ganteng belum ya?'
Iqbaal melirik ke arah tubuhnya sendiri, nyalinya hilang begitu saja ketika gadis itu meluncur di hadapannya dengan senyuman menggoda.
'Apapun yang terjadi, gua tetep harus keliatan ganteng. Perlu basahin bibir buat pelengkap ga ya?' Iqbaal kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu tidak seksi, tapi senyumannya itu begitu mematikan. Matanya yang menatap Iqbaal sejenak seolah mengatakan ‘Ayo surfing bersama!’ tapi Iqbaal tidak kunjung bergerak mengikuti gadis itu.
“Masa bodo ah! Lagian gua ga kenal dia."
Iqbaal melajukan papan surfingnya dengan bantuan ombak untuk sampai ke tepi. Ia tidak memandang lurus ke depan, melainkan lebih ke arah air yang bercampur dengan pasir-pasir putih. Tapi ada yang aneh. Papannya seolah berhenti melaju, padahal ia belum sampai di tepi pantai.
Perlahan-lahan Iqbaal pun mendongak, ia mulai melihat papan surfing lain di depan papan surfingnya. Lalu sepasang kaki—yang kanan di atas papan, dan yang kiri di air dangkal.
Berlanjut ke atas hingga ia melihat pakaian renang bermotif bunga dan lekuk tubuh perempuan. Dan tatapannya berhenti di wajah seorang gadis dengan senyum mematikannya. Tanpa sadar Iqbaal menggidikkan bahunya ke belakang, dan membuat pria itu jatuh ke air yang dangkal.
Gadis di hadapannya hanya tersenyum semakin mematikan dan menukar papan surfing mereka. Iqbaal bangkit kembali, dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Ia melihat papan surfing yang tadi gadis itu pakai adalah papan yang biasa ia gunakan.
“Gue cuma mau ngambil papan surfing langganan gue. Btw, selera papan surfing lo bagus juga, makasih ya udah rela minjemin ke gue.”
Suara gadis itu terdengar bagai alunan melodi yang mendamaikan hati. Berarti... papan surfing mereka bertukar secara tidak langsung?
“I-iya. Selera baju renang lo juga bagus, tapi sayangnya badan lo ga memadai.”
“Heh? Maksud lo?”
“Badan lo terlalu kecil, jadi gua ga puas ngeliat lekukan baju renangnya.”
Gadis itu menangkap senyuman jahil di wajah Iqbaal, kemudian ia memutar mata malas. “Ucapan lo nyaris sama kayak mereka.”
Iqbaal mengikuti arah telunjuk gadis itu yang mengarah ke salah satu pohon kelapa di tepi pantai.
Disana, ada dua orang pria paruh baya berjanggut yang sedang menyengir dan mengangguk-ngangguk ke arah gadis itu. Iqbaal tidak mengenal keduanya, tapi mereka bukanlah orang baik-baik. Lalu tatapan Iqbaal kembali ke arah gadis itu, raut wajahnya berubah semakin bosan.
“Hmm... Gua Iqbaal.” Pria itu memberanikan diri untuk mengulurkan tangannya.
Sayangnya, gadis itu malah kembali melaju dengan surfboardnya melewati papan milik Iqbaal. Ia melaju dengan tenangnya tanpa menjabat uluran tangan pria itu.
Iqbaal menyipitkan pandangan ke arah gadis itu yang merentangkan tangannya saat ombak mengangkat papan surfingnya ke atas. Akhirnya ia menurunkan tangan dan mendengus sebal, gadis itu bukan tipe penggoda yang setengah-setengah.
“Gua datangggg!”
Dan Iqbaal pun menyusul gadis itu untuk surfing bersama. Mereka memang belum kenal satu sama lain, tapi Iqbaal sudah menunjukkan bagaimana ‘Badger’-nya dia sebagai pria. Saat papan surfing mereka berdekatan, dengan modusnya Iqbaal menggamit lengan gadis itu dan tertawa-tawa sendiri.
“Lo ngapain?”
“Surfing lah, yakali gua lagi akad nikahan.”
“Dasar gila!”
“Makasih, sayang.” Iqbaal mengedipkan sebelah matanya dengan jahil.
“Okay, gue (namakamu).” Akhirnya gadis itu menyebutkan namanya dan jemari Iqbaal yang memegangi lengannya pun mengendur.
“Bukan nama yang cantik.”
Gadis itu langsung menyentak tangannya menjauh dari Iqbaal. “tapi nama yang sempurna...” lanjut Iqbaal yang sambil lalu mempercepat laju papannya dengan mengayuh salah satu kaki.
(namakamu) mau tidak mau tersenyum sembari terus memperhatikan pria itu. Dilihat dari tinggi, gaya, dan wajahnya, sepertinya mereka memang seumuran. 17 tahun.
Pria itu bukanlah menggodanya, tapi itu memang sifatnya sebagai badboy layaknya Young-do di film The Heirs. Iqbaal sampai di tepi pantai lebih dulu dan melambaikan tangannya ke arah (namakamu).
Dan yang membuat senyuman (namakamu) semakin lebar ketika ia sampai di tepi pantai adalah...
Iqbaal mencondongkan kepalanya ke arah telinga gadis itu dan berbisik,“Sampai ketemu lagi, cantik.”
(namakamu) merasakan jika ini adalah mimpi terindah yang nyata dalam hidupnya karena bisa bertemu dengan pria seperti Iqbaal. Memang tidak membuatnya merasa nyaman, justru takut karena pria itu bisa melakukan hal yang buruk. Tapi pria itu berhasil membuat hatinya ikut tersenyum, bukan hanya di bibirnya saja.
Berbeda dengan seorang gadis yang mengintip dari balik salah satu kedai es kelapa, ia menatap (namakamu) dengan sangat sinis.
Baginya, ini adalah awal dari mimpi buruk karena melihat Iqbaal terlihat nyaman dengan gadis itu. Steffi sangat berharap agar mereka tidak bertemu lagi. Meskipun usia Steffi sudah 14 tahun, ia tetap tidak lupa dengan janjinya saat berusia 7 tahun.
“Siapapun cewek yang berani deketin kak Iqbaal, berarti harus berurusan sama gue.”
Steffi pun mengambil kerikil di sekitar kakinya dan melempar sejauh mungkin ke arah (namakamu). “Mampus lo!”
PLUKK
Salah satu kerikil Steffi tepat mengenai pelipis (namakamu) dan memercikan sedikit darah disana. Ujung batunya lumayan tajam dan menghantam begitu keras.
Iqbaal langsung menarik tubuh (namakamu) agar berdiri di pasir pantai seperti dirinya. Ia pun menarik wajah gadis itu mendekat, bukan bermaksud untuk menciumnya.
“Tahan ya,” ucap Iqbaal.
'Cowok ini mau ngapain?' tanya (namakamu) dalam hatinya.
Tanpa ada rasa canggung ataupun malu, pria itu melumat bagian pelipis (namakamu) yang terluka. Gadis itu tersentak dan jantungnya berdegup ratusan kali lebih kencang.
Pria itu sudah lancang padahal mereka baru kenal beberapa menit yang lalu. (namakamu) tidak mau marah, mendorong tubuh pria itu menjauh, ataupun berterima kasih. Terlihat Iqbaal membuang ludah yang bercampur darah (namakamu) ke pasir.
“Kenapa lo lakuin itu? Bukannya kita baru kenal tadi?”
Iqbaal tersenyum miring, tatapan jahilnya kembali lagi. "Gua ga mau pertemuan pertama kita ga berkesan dan terlupakan begitu aja. Gua takut kita ga ketemu lagi.”
“Kalo kayak gini caranya...”
(namakamu) mengalihkan pandangan ke arah kakinya, ia tidak mau terlihat bodoh di hadapan pria itu. “gue jadi kepengen ketemu lo setiap hari.”
Iqbaal langsung melompat girang seperti pria yang senang karena cintanya diterima. Tidak sia-sia ia melakukan itu, meski merasa sedikit jijik. Namun, ketika (namakamu) mendongak lagi, wajah gadis itu sudah berubah datar dan benar-benar menatap Iqbaal tajam.
“Sayangnya, gue cuma bercanda, Iqbaal.”
Dan gadis itu pun pergi bersama papan surfingnya setelah memberi tamparan keras di pipi Iqbaal. Ia juga berbisik,
"Gue bukan cewek murahan yang bisa lo sentuh dengan bibir lo seenaknya."
.
.
BADGER BOY. Satu sebutan yang paling pria itu anggap pantas untuk dirinya sendiri.
Dari awal SMP, ia sudah dikenal sebagai bad boy. Sampai akhirnya pria itu dapat gelar lebih tinggi, yaitu BADGER BOY di awal SMA ini. Semua siswa di sekolahnya tahu kalau pria itu senang membuat grafitti di gerbong kereta yang terbengkalai ataupun tembok belakang sekolah. Bahkan di dinding toilet sekolah.
Pria berambut cepak itu tidak suka membuang waktu jika berangkat ke sekolah seperti hari ini. Maka dari itu ia selalu mengendarai skateboard kesayangannya.
Benar-benar berbeda dari pria-pria culun lain yang datang ke sekolah mengendarai motor—sok—gede, ataupun yang menaiki angkutan umum. Pria yang mengendarai mobil mahal bersama kekasihnya saja kalah dengan seluruh skill yang Iqbaal miliki.
“Pagi, kak Iqbaal!”
“Astaga, Steffi...”
Iqbaal terkejut dengan adiknya yang tiba-tiba saja menghadang skateboardnya di gerbang sekolah.
Padahal gadis itu sekolah di SMP yang masih beberapa kilo lagi dari SMA Iqbaal, tapi sempat-sempatnya ia mampir dulu. Mereka memang tidak lagi berangkat bersama, alasannya adalah karena Iqbaal malu dengan Steffi yang selalu menggelayutinya dengan manja.
Beruntung sekolah Iqbaal masih sepi, ia pun menarik Steffi menjauh dari gerbang itu. Gadis itu tersenyum miring meski ia tahu Iqbaal tidak suka dengan kedatangannya ini.
“Ada apa kamu dateng ke sekolah kakak?” tanya Iqbaal muram.
“Mau kasih bekel, kakak lupa bawa lagi kan?”
Iqbaal menerima kotak bekal dari Steffi dengan setengah hati, lalu memasukkannya ke dalam tas. “Sekarang kamu ke sekolah gih!”
“Oke! See you, kak! Jangan lupa kalo udah makan, telepon aku.”
“Ya, kalo inget.” Ucap pria itu selirih mungkin.
Iqbaal menghembuskan nafas lega saat Steffi berjalan menjauhi dirinya dan memberhentikan salah satu angkutan umum. Gadis itu melambai-lambaikan tangannya dari jendela pada Iqbaal. Pria itu tersenyum, bagaimanapun juga Steffi adalah adik kesayangannya dan keluarganya satu-satunya.
Sampai saat ini Iqbaal tidak tahu dimana kedua orang tuanya. Sampai saat ini mereka—Iqbaal dan Steffi—masih tinggal di rumah kenalan papanya yang biasa ia panggil sebagai ‘Om Patrick’.
Tapi terkadang, Iqbaal kesal juga dengan Steffi yang selalu berada dimana ia berada. Banyak orang mengira mereka sepasang kekasih, dan itu membuat Iqbaal merasa mulas seketika.
TIN TIN TIN
Pria itu terkesiap lalu menyipitkan mata ke arah mobil yang suara klaksonnya merusak kesunyian pagi ini. Iqbaal mendekat ke gerbang yang baru terbuka setengah, rasanya ia ingin segera ke kantin untuk berkumpul bersama teman-temannya.
Tapi sialnya, mobil itu membunyikan klaksonnya lagi membuat Iqbaal hampir kehilangan jantungnya. Ia membelokkan langkah menjadi ke arah mobil.
Lebih tepatnya ke arah pintu si pengemudi karena ia ingin memarahi pengemudi yang membuatnya kesal itu. Kesialan menimpa Iqbaal, pintu mobil itu terbuka sebelum Iqbaal sampai dan tepat mengenai tubuhnya.
Iqbaal pun jatuh bersama skateboardnya, ah bahkan hatinya juga ikut jatuh saat melihat siapa yang keluar dari mobil sport merah itu.
“Kenapa lo ga ngebukain gerbangnya? Kan lo yang paling deket sama gerbang itu, bro.”
Seorang gadis dengan kacamata hitam bergaya dan rambut cokelatnya yang beterbangan, mengulurkan tangan pada Iqbaal.
Iqbaal pura-pura jual mahal, ia memilih untuk bangun sendiri dan menaikkan salah satu kaki di skateboardnya. Itulah jurus andalannya agar gadis-gadis yang melihatnya langsung terpana. Tapi gadis di hadapannya ini malah menurunkan kacamatanya dan tatapan tajamnya masih sama seperti hari itu.
“Lo pikir gue bakal peduli lo mau masang tampang sok keren, sok jual mahal, ataupun sok melas di depan gue?”
“Jadi lo ga terpesona?” Iqbaal melongo.
“Gue?” (namakamu) menaikkan kacamatanya lagi. “sama sekali ga tertarik apalagi terpesona sama lo, badboy.”
“Ya, tapi nantinya lo bakal terpesona sama gua. Buktinya lo sampai dateng ke sekolah gua, pasti mau nyariin gua kan?”
"Apa tamparan gue waktu itu kurang keras?"
"Jelas kurang, karena lo ga sekalian nyium pipi gua."
(namakamu) memutar matanya tanpa perlu Iqbaal lihat. Gadis itu mengalihkan pandangan satpam sekolah yang telah membukakan gerbang untuknya.
(namakamu) memilih untuk masuk ke dalam mobilnya lagi dan memakirkannya di halaman parkir. Ia tidak peduli dengan Iqbaal yang terlihat seperti orang bodoh karena masih terus memperhatikannya.
‘Dia pikir ini sekolahan nenek moyangnya?’ umpat (namakamu) sembari melirik Iqbaal dari spion.
‘Siapapun boleh sekolah disini, termasuk gue. Apa untungnya gue dateng kesini kalo cuma mau nyari dia? Cowok itu jumlahnya milyaran di dunia.’
TUKK TUKK
(namakamu) tersentak saat kaca mobilnya diketuk seseorang yang tak lain adalah pria itu. Kali ini ia datang dengan senyuman sinis dan tatapan yang menggoda. Gadis itu segera keluar dari mobilnya, lalu menatap Iqbaal yang berdiri di atas skateboardnya dengan sinis juga.
“Kalo lo mau ke ruang kepala sekolah, bisa ikutin gua.”
“Siapa lo? Berani-beraninya nyuruh gue ngikutin lo?”
Iqbaal menyedekapkan tangannya di depan dada. “Anak perempuan di sekolah banyak yang belum dateng. Terserah sih kalo lo mau gua anterin atau justru mereka-mereka yang nganterin lo?”
“Mereka-mereka siapa maksud lo?”
“Mereka si badboy kelas dibawah standar, gagal pula.”
Iqbaal pun menunjuk beberapa pria bersenyum miring yang tengah berdiri di balkon kelas mereka masing-masing. (namakamu) langsung bergidik ngeri, kenapa sekolahan ini menyeramkan sekali? Kenapa ia harus selalu mendapat senyuman seperti itu dari pria yang melihatnya?
Apa yang salah dengan (namakamu)? Gadis itu dengan terpaksa mengikuti Iqbaal yang berjalan menggunakan skateboardnya. Dan haruskah (namakamu) berlari-lari untuk mengejarnya?
Pilihan satu-satunya adalah ia memang harus berlari untuk mengejar Iqbaal yang tiba-tiba berbelok di tikungan koridor.
Decitan sepatu (namakamu) tentu saja mengundang perhatian, termasuk perhatian beberapa siswa perempuan yang datang dari arah kantin. Satu kesimpulan yang (namakamu) dapatkan. Gadis-gadis di sekolah ini bukan datang siang, melainkan memilih untuk berada di kantin lebih dulu.
Pria itu masih asik mengendarai skateboardnya dan meninggalkan (namakamu) yang berlari di belakang. Gadis itu jadi merasa dibodohi, benarkah jarak ruang kepala sekolah dari halaman parkir cukup jauh? Jangan-jangan...
“Disini ruangannya, cantik.”
Beberapa meter dari jarak berdiri (namakamu), Iqbaal menunjuk salah satu ruangan yang pintunya tertutup.
“Kalo sampai lo boong, gue ga bakal diem aja.” Sahut (namakamu).
(namakamu) berhenti di depan ruangan yang dimaksud Iqbaal, tidak ada tulisan ‘Ruang kepala sekolah’ diatas pintunya. Gadis itu menatap Iqbaal tajam, tapi pria itu tahu harus menjawab apa.
“Emang ga ada tulisannya, karena kepala sekolah ga mau dibedain ruangan-ruangan disini. Tapi gua ga bohong, ini emang ruangan kepala sekolah.”
“Lo ga lagi boongin gue kan?”
Wajah Iqbaal terlihat meyakinkan. “Gua serius, (namakamu). Kalo ga percaya, lo coba masuk dulu, kalo ternyata gua bohong, lo tinggal keluar lagi kan?”
“Lo ga bisa dipercaya.”
“Gua emang ga bisa dipercaya, tapi gua juga ga pinter boong.”
“Lo... ga ada satu kata pun yang cocok buat ngegambarin sosok puzzled kayak lo!”
“Cewek selalu banyak omong. Perlu gua bukain pintunya?”
“Gue bisa sendiri!”
Gadis itu memutar knop pintu perlahan-lahan, rasanya ruangan ini sudah lama sekali tidak terbuka. Tapi gadis itu memang tidak tahu dimana letak ruangan kepala sekolah, dan ia hanya mengenal Iqbaal disini.
Mau tidak mau, (namakamu) membuka pintunya lebih lebar dan melongokkan kepalanya ke dalam. Iqbaal tidak tinggal diam, ia segera mendorong punggung gadis itu agar masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat.
Pria itu mengambil kunci yang tergantung di paku sebelah pintu, dan segera mengunci pintu itu sebelum (namakamu) keluar. Kali ini, (namakamu)-lah yang terkena sial. Iqbaal telah berhasil mengunci gadis itu di gudang, bukan di ruangan kepala sekolah.
"Satu pelajaran buat lo hari ini. Jangan cepet percaya sama orang yang pernah lo liat atau yang pernah lo temuin," kata Iqbaal.
Terdengar pintu digebrak keras oleh (namakamu). Iqbaal tidak benar-benar jahat, ia hanya mengunci pintunya, namun tidak meninggalkannya. Pria itu bersandar di pintu sembari menggerak-gerakkan skateboardnya dengan sebelah kaki.
“Buka, Iqbaal! Lo keterlaluan banget sih!”
“Ngapain gua bukain? Bukannya disana bakal ada temen-temen lo yang suka ngegoda itu?”
“Maksud lo? Cepetan buka pintunya, Iqbaal!”
“Lo pikir lo siapa? nyuruh gua bukain pintu?” Iqbaal berteriak di lubang pintu.
“Lo itu nyaris sama kayak tikus yang suka lewat-lewat di depan kucing. Tikus yang mikir dia bakal lolos dari kucing itu karena tikus punya lubang kecil yang ga mungkin kucing lewatin. Tapi sekarang, posisi lo itu adalah tikus yang kena perangkap, dan cuma ada gua—si kucing—yang bisa nolongin lo.” Pria itu menggebrak pintu balik.
(namakamu) terdiam, ia tahu berdebat dengan Iqbaal tidak akan membuat pria itu membukakan pintu untuknya. “Terus mau lo apa, hah?”
“Gua mau lo.”
Bersambung...
***
@Febyanti_R