‘Sweet Bad Dreams’
Part 4
_______________________________
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
'Cause you know I love the players
And you love the game
~Taylor Swift ‘Blank Space’~
***
“Iqbaal! Kamu ini niat sekolah atau niat tawuran sih? Benerin seragam kamu, Baal!”
“Ini udah bener kok, bu. Ibu aja yang gatau trend zaman sekarang.”
Guru matematika itu mendengus kasar, ia butuh kesabaran lebih untuk menasihati siswa yang paling menjengkelkannya ini. Sedari tadi pria itu tidak memperhatikan pelajaran karena dia menganggap dirinya sudah pintar, dan kenyataannya memang begitu.
Tapi bukan berarti dia bisa menaikkan kaki keatas meja, menaikkan kerah baju, dan membuka tiga kancing teratas seragamnya kan? (namakamu) hanya memutar matanya.
Iqbaal memang badger boy sejati, di depan guru saja ia berani seperti itu. Tapi yang (namakamu) herankan adalah, kenapa pria itu bisa pintar? Setahu (namakamu), badger boy itu suka main di club malam, malas belajar, melawan orang tua, tawuran, dan sebagainya. Kenapa Iqbaal berbeda?
“Benarkan pakaian dan cara duduk kamu atau ibu bakal hukum kamu sekarang juga, Iqbaal!”
“Emangnya ibu ga mau nanya siapa yang ngajarin saya kayak gini?”
Guru itu mengernyitkan dahi, “Siapa yang ngajarin kamu kayak gini, Baal?” akhirnya ia bertanya.
Iqbaal tersenyum penuh kemenangan, ia melirik ke arah (namakamu) yang masih fokus pada papan tulis. Namun gadis itu bisa melirik Iqbaal lewat mata falset. Entah mengapa gadis itu merasakan Iqbaal akan membawanya ke sebuah masalah baru. Pria itu selalu menyebalkan.
“(namakamu), bu.” Jawab Iqbaal santai sembari menepuk-nepuk punggung gadis itu.
Jelas saja (namakamu) terkesiap, apa-apaan Iqbaal berkata seperti itu? Sejak kapan (namakamu) mengajari Iqbaal untuk berpakaian, melawan guru, dan duduk tidak sopan seperti itu? Terdengar gumaman ‘HAH?’ yang panjang mendominasi seisi kelas.
(namakamu) menepis tangan Iqbaal dipunggungnya. “Bohong, bu! Saya juga bukan siapa-siapanya dia, buat apa saya—“
“Dia pacar saya, bu. Kemarin dia cemburu sama Amanda, terus nyuruh saya pake baju kayak gini supaya ga ada cewek lain yang suka.”
‘Astaga... dasar korek yang suka nyulut api!’ (namakamu) menatap Iqbaal tajam.
“Ah, anak muda zaman sekarang sudah tidak ada yang benar.”
Guru itu mendekati meja (namakamu) dan Iqbaal. “dari penjelasan Iqbaal tadi, berarti kamu yang salah kan, (namakamu)?”
Gadis itu menatap gurunya dengan sengit. “Ibu kan belum tau dia boong atau engga, ga bisa seenaknya gitu dong!”
“Udahlah, bu. Hukum aja dua-duanya, biar jam belajar kita ga habis cuma buat nentuin siapa yang salah.” Salsha berucap.
BD. Salah satu pria yang sedari tadi memainkan pulpen diantara jemarinya juga angkat bicara, “Kalo mereka sama-sama ga mau dihukum, suruh ciuman di depan kelas aja, bu. Biar malu sekalian!”
Mata guru itu melotot ke arah BD, sementara pria itu hanya menyengir dan mengangkat dua jari membentuk V. Tanpa (namakamu) perlu tahu, Iqbaal sedikit menundukkan wajahnya karena pipinya merona.
Bodoh memang malah dia yang merona, tapi mau bagaimana lagi. Iqbaal rasa ciuman di depan kelas adalah ide yang bagus kalau saja... (namakamu) tidak menggebrak meja dan langsung berjalan keluar kelas. Ada apa dengan gadis itu? Apa dia tidak senang membayangkan berciuman dengan Iqbaal?
“(namakamu)!” panggil Iqbaal, namun gadis itu telah menghilang dibalik pintu kelas.
“Iqbaal, lebih baik kamu kejar dia! Dan hukuman kalian adalah...”
Belum selesai guru itu berbicara, Iqbaal sudah berdiri dan mulai berlari ke pintu kelas.
“Udahlah bu, biarin saya aja yang nentuin hukumannya. Anggep aja hari ini saya gurunya, okay, bu?”
Guru itu menatap punggung Iqbaal yang ikut menghilang dibalik pintu. Mulutnya menganga sejenak mengulang apa yang baru saja Iqbaal lakukan dan katakan padanya. Anak itu benar-benar menjengkelkan, belum lagi kekasihnya—(namakamu)—yang tadi menggebrak meja dan hampir membuatnya serangan jantung.
“IQBAAALLLLLLLLL, HUKUMAN KAMU IBU TAMBAH PULANG SEKOLAH NANTI!”
.
.
Mengumpati Iqbaal adalah kebiasaan (namakamu) setiap harinya. Ia tidak peduli mau ketinggalan pelajaran, diberi hukuman ataupun dikejar oleh pria itu, yang penting (namakamu) bisa keluar dari kelas.
Selain bosan belajar, gadis itu juga kesal dengan ucapan BD tadi. Dengan beraninya pria itu mengatakan agar Iqbaal dan (namakamu) berciuman di depan kelas. Memang dia pikir (namakamu) itu benar-benar kekasih Iqbaal? Sayangnya salah besar dan tidak akan pernah terjadi.
Ia memilih untuk masuk ke perpustakaan. Mungkin dengan berada disana, Iqbaal akan kehilangan jejaknya—karena gadis itu benar-benar muak melihat wajah Iqbaal. Gadis itu terus berjalan ke dalam tanpa melihat keadaan sekitar.
Padahal perpustakaan itu tidak ada penjaganya dan tercium bau asap rokok yang pekat. Seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres.
Tapi sayangnya, (namakamu) telah melangkah lebih jauh. Perpustakaan itu awalnya terlihat benar-benar kosong dan sepi. Namun beberapa meter di depannya, ia melihat ketiga pria itu asik merokok dan merasa terganggu akan kehadirannya.
Benar saja, ketika gadis itu berhenti di tempat, ia merasakan bahwa ia harus segera berputar balik sebelum... Salah satu tangan menahan tubuhnya agar tidak berputar balik.
“Mau kemana sih? Disini ga berlaku puter balik loh.” Ucap pemilik tangan yang berwarna cokelat gelap itu.
“Seneng-seneng aja dulu, lagian kita ga buru-buru buat ke kelas kok.”
‘Sekarang masalah apa lagi ini?’
Gadis itu menepis tangan yang menahan tubuhnya. “Gue salah masuk ruangan, misi...”
Lagi-lagi, tangan itu menahan tubuhnya yang hendak melangkah mundur. “Bagi lo salah, tapi bagi kita engga.”
(namakamu) jadi teringat Iqbaal. Seharusnya ia tidak berharap agar Iqbaal tidak mengikutinya, karena sekarang ia terjebak diantara tiga pria yang waktu itu Iqbaal bilang sebagai ‘Badboy kelas di bawah standar, gagal pula’.
Masalahnya, seringaian mereka terlalu jelek dan terlihat lebih menakutkan dibanding seringaian Iqbaal. Setidaknya Iqbaal adalah badboy berkelas, kalau ketiga pria di hadapannya ini... (namakamu) tidak yakin.
Yang memakai anting hitam bersiul keras dan memandangi tubuhnya dari atas hingga bawah. Lalu yang masih menahan tubuhnya, malah mengangkat sebelah alis ke arah teman lainnya. Sedangkan yang satu lagi hanya melipat kedua tangan di depan dada, tapi tatapannya tidak berpindah dari wajah (namakamu).
“Lo cewek yang pake mobil sport merah itu kan?”
(namakamu) tidak menjawab, ia merasakan nafasnya tertahan begitu saja. Gadis itu mencoba untuk melangkah mundur, tapi tangan yang menahan tubuhnya malah mendorong gadis itu ke depan dengan lebih keras.
(namakamu) nyaris jatuh kalau saja tangannya tidak bertumpu di bahu pria beranting di depannya.
“Untung ada gua, ya?” tanya pria itu, tatapannya menjadi lebih tajam ke arah (namakamu).
"Kita bertiga orangnya asik-asik kan?”
“Gue bener-bener harus ke kelas, bro.”
“Tapi gua ga pengen lo ke kelas, gua pengen lo seneng-seneng sama kita. Mau coba rokok?”
“Sayangnya gue lagi ga pengen seneng-seneng. Gue harus pergi,”
“Ga segampang itu kali. Lo yang udah ganggu kita duluan kan?”
“Gue ga bermaksud, gue pikir perpus ini kosong tapi ternyata ada kalian.”
“Kosong? Berarti penjaganya udah pergi dong? Wah, kalo gitu—“ pria itu menghembuskan asap rokoknya di sekitar wajah (namakamu). “perpus ini bener-bener milik kita berempat dong?”
(namakamu) terbatuk sejenak, ia bukan perokok aktif. Bisa-bisa ia terkena dampak yang lebih parah dibanding para perokok ini. Sekali lagi (namakamu) mencoba mundur, tapi pria beranting di hadapannya itu malah menarik tangannya.
“Kok muka lo pucet gitu sih? Sakit ya? Kalo sakit, tiduran aja disini gapapa. Kita ga keganggu.”
“Eh, bray!” pria yang berwajah lebih buruk menepuk pundak (namakamu). “boleh gua ngukur panjang rok lo pake jengkal gua?” lalu pria itu tertawa senang bersama dua lainnya.
“Lepasin tangan gue!” (namakamu) berusaha menggertak. “atau gue bakal panggil Iqbaal!”
“Iqbaal? Haahahaahah” pria beranting tertawa lebar.
“Lo tau udah berapa lama kita pengen bales dendam sama dia? Nyaris dua tahun! Dia itu sok raja di sekolah, semua cewek keliatan tunduk sama dia. Guru sayang dia karena dia pinter, dia mau bikin onar pun gapapa.”
“Sedangkan kita? Cuma dapet cewek yang ternyata mantan-mantan dari Iqbaal, setiap hari kena omelan guru. Bikin onar sedikit, hukumannya di skors dari sekolah. Gua benci sama cowok itu. Dulu waktu kita mau tawuran sama sekolah lain, cowok itu ngadu ke kepala sekolah.”
“Dia sok-sok bilang kalo mau jadi badboy bukan berarti tawuran. Padahal menurut gua, kalo mau jadi seorang badboy ya harus ngerasain tawuran dulu...”
(namakamu) tertawa sinis. “Iqbaal itu badboy berkelas, bukan amatiran kayak kalian!”
“Apa lo bilang? Kita amatir?”
“Ya. Sebadger apapun Iqbaal, dia ga bakal main keroyokan ke cewek kayak kalian gini. Dia ga pernah nahan satu cewek pun untuk dia manfaatin, diukur panjang roknya apalagi diajak ngerokok!”
“Lo boleh ngomong gitu, (namakamu).”
Pria beranting itu mengelus dagu (namakamu). “tapi sayangnya kita bukan Iqbaal yang berkelas. Kita bisa nyakitin cewek manapun, kapanpun, dan dengan alasan apapun.”
Gadis itu menampar pipi si pria beranting dengan keras. Sementara teman-temannya shock dengan kejadian itu, (namakamu) berlari ke pintu perpustakaan. Ia tahu dengan menampar pria itu, pasti mengalihkan perhatian dua lainnya. Ia tersenyum kecil, akhirnya tidak perlu menahan nafas lagi untuk berada diantara ketiga pria itu.
“Mau kemana lo, hah?”
(namakamu) baru saja ingin membuka pintunya lebih lebar, tapi si pria beranting menarik tangannya ke belakang. “Kita ga ada masalah apa-apa, jadi biarin gue pergi.”
“Lo lupa udah bilang kita amatiran? Dan... lo juga udah nampar gua!”
Gadis itu menoleh lagi ke arah pintu yang terbuka sedikit, terlihat siluet tubuh Iqbaal yang sedang berjalan mendekat. Tapi gadis itu terlalu bodoh sehingga pria beranting itu ikut melihat Iqbaal yang sedang kemari, ia mendorong pintu agar tertutup sepenuhnya.
“IQ—hmphhh”
Pria beranting itu tentu tahu bahwa (namakamu) akan meneriakkan nama Iqbaal, maka ia segera membekap mulut gadis itu dan menariknya menjauh dari pintu. Gadis itu meronta-ronta, tapi tidak berguna karena tenaga pria beranting itu terlalu besar.
“(namakamu)? Lo di dalem?” terdengar suara Iqbaal dari luar pintu.
“Hmphhh hmphhh”
“Syuuttt” pria beranting itu memelototi (namakamu). “gua pengen dia masuk ke dalem dan berusaha nolong lo. Tapi tetep aja ga akan berhasil, karena kedua temen gua bakal pukul dia dari belakang.”
‘Iqbaal... gue mohon lo masuk, tapi jaga-jaga dari arah belakang lo.’
“(namakamu)? Itu suara lo kan?”
Knop pintu mulai bergerak, (namakamu) masih berusaha melepaskan diri dari pria beranting itu. Sementara disisi kedua pintu, kedua teman pria beranting itu sudah siap dengan buku tebal dan vas yang tadinya ada di meja penjaga perpus.
Seperti di film-film, (namakamu) menggigit tangan pria itu dan menginjak kakinya dengan sekuat tenaga.
“IQBAAL! PERHATIIN BELAKANG LO!”
Iqbaal malah membuka pintu dengan santai, tapi ia tidak segera masuk. Jadi kedua teman pria beranting itu terkesiap saat hendak memukul Iqbaal, tapi nyatanya pria itu belum masuk ke dalam perpus.
“Kalian bertiga mau gua laporin ke kepala sekolah?”
Pria itu mendekat ke arah (namakamu) yang lengannya masih dipegang erat oleh si pria beranting.
“Karel, gua tau lo benci sama gua, tapi bukan berarti lo bisa ngeduluin gua buat nyakitin cewek rese ini.”
“Jadi, dia bukan pacar lo?” tanya pria beranting yang ternyata bernama Karel.
Iqbaal menggeleng, lalu menarik kasar tubuh (namakamu) dari Karel. “Gua punya masalah jauh lebih banyak sama cewek ini dibanding lo. Jadi, biar gua aja yang nyakitin dia.”
(namakamu) menyikut perut Iqbaal. “Lo—“
“Kalo gitu Karel, kita bakal nyelesain masalah kita di lain waktu. Tapi saran gua, one by one, okay?”
Iqbaal menatap tajam ke arah (namakamu), membuat gadis itu merasa kesal kembali. “Dan lo cewek rese, gua mau seneng-seneng sama lo jauh lebih menyenangkan daripada cara mereka tadi. Jadi, lo harus ikut gua!”
Baru beberapa langkah Iqbaal dan (namakamu) meninggalkan Karel, pria itu berbisik di telinga (namakamu). “Pelajaran kedua buat lo, jangan pake rok 15 cm diatas lutut kayak gini—ngundang setan tau ga?"
"Beruntung aja lo karena gua ga keundang setan, coba kalo gua keundang pasti lo udah—“
(namakamu) menarik kerah baju Iqbaal diikuti tatapan yang sinis. “Lo berani sama gue, gue bunuh lo sekarang juga, Baal!”
***
“Kalo gua bilang di rumah gua, ya kalian gaada yang bisa nolak. Turutin apa yang ketua kelas mau, kalo kalian ga mau punya masalah sama gua.”
BD memutar matanya, “Terserah lo deh, Baal. Yang penting kerja kelompoknya selesai hari ini juga.”
“Terus kita mau kesana pake apa?” tanya Dianty.
Iqbaal tidak menjawab, malah memperhatikan wajah (namakamu). Salsha menyikut lengan (namakamu) yang sedari tadi memejamkan matanya.
Gadis itu malas mendengar ucapan Iqbaal apalagi menatap wajahnya. Guru di kelas ini benar-benar menyebalkan, kenapa (namakamu) harus satu kelompok dengan Iqbaal? Meskipun ada Salsha, BD, dan Dianty, (namakamu) tahu bahwa Iqbaal akan memberikan tugas yang besar padanya.
“Apa, Sha?”
“Iqbaal dari tadi ngeliatin lo tuh,”
“Jelas aja gua ngeliatin dia.” Ucap Iqbaal. “karena gua mau minta tolong dia buat nganter kita ke rumah gua pake mobilnya.”
“Kalo gue ga mau gimana?”
“Ya, lo harus mau. Anggep aja dengan lo nganterin kita, berarti lo udah makasih sama gua karena kemaren gua udah nolongin lo dari Ka—“
“Shut up! Okay, kita ke mobil gue sekarang.”
.
.
Iqbaal mempersilahkan keempat temannya itu masuk ke dalam rumah. Disana mereka disambut oleh seorang gadis berwajah imut, rambut pirang, yang mengenalkan diri dengan nama ‘Steffi’.
BD sempat berkedip jahil ke arah gadis itu, tapi sayangnya gadis itu mengabaikannya dan malah mengikuti Iqbaal masuk ke dalam.Steffi terus memperhatikan saat mereka mengerjakan tugas presentasi di ruang tamu Iqbaal. Agak sedikit risih, karena Steffi duduk tepat di belakang Iqbaal.
Pemandangan yang aneh jika seorang adik terlalu protektif terhadap kakaknya, tapi (namakamu), Salsha dan Dianty tidak mau memikirkannya. Mungkin Steffi hanya ingin tahu apa yang sedang mereka kerjakan.
“Kakak-kakak yang cewek mau pulang kapan? Ini udah hampir maghrib loh...”
Serentak ketiga gadis itu menoleh ke arah Steffi. “Bentar lagi juga selesai kok, Steff.” Jawab Salsha mewakili yang lainnya.
“Yang cowok ga ditanya nih?” BD menaikkan sebelah alis ke arah Steffi.
“Hmm, kalo bisa sih yang cowok juga cepet-cepet pulang bareng kakak cewek yang lainnya.”
“Baal, adik lo sensi banget sama kita bertiga? Kenapa sih?” (namakamu) bertanya pada Iqbaal, tapi pandangannya masih ke arah Steffi yang mengerucutkan bibir.
Iqbaal menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Masalah banget sih sama lo, (namakamu). Bilang aja kalo lo masih mau lama-lama disini!”
“Kata siapa? Justru gue udah ngantuk banget, Baal! Mana presentasinya belum kelar-kelar,”
“Tidur aja di sofa, repot banget hidup lo.”
“Lo yang bikin hidup gue jadi repot!”
“Lo duluan yang ngerepotin hidup gua!”
“Mau lo apa sih, Baal?”
Iqbaal tersenyum miring. “Mau gua lo tidur aja di sofa, diem, terus bangunnya besok-besok aja biar hidup gua tenang.”
“Permintaan lo diterima. Hoaammm” (namakamu) pun menguap.
Steffi menatap (namakamu) yang berjalan ke arah sofa dengan sinis. Sedari tadi gadis itulah yang paling diperhatikan oleh kakaknya, berarti ada sesuatu diantara mereka berdua. Bahkan ketika gadis itu benar-benar sudah naik ke atas sofa dan tidur disana, Iqbaal masih terus memandanginya dan perlahan-lahan tersenyum.
Steffi segera menepuk bahu Iqbaal, “Kak, bantuin tuh temen-temennya yang lain biar tugasnya cepet kelar.”
Dianty dan Salsha terfokus pada layar laptop di meja karena mereka sedang mengedit bahan presentasi di dalamnya. Sedangkan BD sedang menulis pokok-pokok presentasi agar besok mereka bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
Iqbaal tidak tahu harus berbuat apa, tugasnya untuk mengetik sudah selesai dari tadi. Tapi setelah melihat (namakamu) tertidur diatas sofa, Iqbaal tahu jika ia punya tugas.
Tugas untuk terus memperhatikan wajah damai gadis itu. Tidak peduli jika Steffi masih berusaha menyuruhnya untuk ikut bekerja, toh Steffi tidak tahu bahwa tugas Iqbaal sudah selesai.
“Steffi, mendingan bantu kak BD deh sini!”
Steffi memutar mata, tapi ia tidak ingin menolak. “Yayaya, bantu apa kak?”
“Kamu dikte bacaan ini, biar aku yang nulis.”
Iqbaal menoleh ke arah BD, dan pria itu mengedipkan sebelah mata. BD tahu bahwa Iqbaal tidak ingin diganggu saat melihat (namakamu) tertidur. BD tahu Iqbaal cukup menyukai (namakamu), meskipun pria itu terlihat ogah-ogahan saat bersama (namakamu).
Iqbaal tersenyum lebar ke arah BD, lalu kembali menoleh ke arah (namakamu). Pria itu duduk lebih dekat dengan sofa yang ditiduri gadis itu. Kaki (namakamu) sedikit menekuk karena ukuran sofa tidak sesuai dengan panjang tubuhnya. Matanya terpejam cukup kuat, Iqbaal tahu bahwa gadis itu kelelahan.
“Tidur yang nyenyak, alien.”
Iqbaal terkekeh sendiri dengan panggilan yang ia berikan untuk (namakamu).
“Kalo lo ga tidur, pasti lo pengen tau kenapa gua panggil lo alien. Tapi untuk saat ini, biarin gua aja yang tau. Dan jangan lupa mimpiin gua ya, alien...”
“GIMANA GUE MAU TIDUR KALO LO NGOMONG MULU, IQBAAL!”
Bersambung...
***
@Febyanti_R
Tidak ada komentar:
Posting Komentar