‘Sweet Bad Dreams’
Part 4
_______________________________
Got a long list of ex-lovers
They'll tell you I'm insane
'Cause you know I love the players
And you love the game
~Taylor Swift ‘Blank Space’~
***
“Iqbaal! Kamu ini niat sekolah atau niat tawuran sih? Benerin seragam kamu, Baal!”
“Ini udah bener kok, bu. Ibu aja yang gatau trend zaman sekarang.”
Guru matematika itu mendengus kasar, ia butuh kesabaran lebih untuk menasihati siswa yang paling menjengkelkannya ini. Sedari tadi pria itu tidak memperhatikan pelajaran karena dia menganggap dirinya sudah pintar, dan kenyataannya memang begitu.
Tapi bukan berarti dia bisa menaikkan kaki keatas meja, menaikkan kerah baju, dan membuka tiga kancing teratas seragamnya kan? (namakamu) hanya memutar matanya.
Iqbaal memang badger boy sejati, di depan guru saja ia berani seperti itu. Tapi yang (namakamu) herankan adalah, kenapa pria itu bisa pintar? Setahu (namakamu), badger boy itu suka main di club malam, malas belajar, melawan orang tua, tawuran, dan sebagainya. Kenapa Iqbaal berbeda?
“Benarkan pakaian dan cara duduk kamu atau ibu bakal hukum kamu sekarang juga, Iqbaal!”
“Emangnya ibu ga mau nanya siapa yang ngajarin saya kayak gini?”
Guru itu mengernyitkan dahi, “Siapa yang ngajarin kamu kayak gini, Baal?” akhirnya ia bertanya.
Iqbaal tersenyum penuh kemenangan, ia melirik ke arah (namakamu) yang masih fokus pada papan tulis. Namun gadis itu bisa melirik Iqbaal lewat mata falset. Entah mengapa gadis itu merasakan Iqbaal akan membawanya ke sebuah masalah baru. Pria itu selalu menyebalkan.
“(namakamu), bu.” Jawab Iqbaal santai sembari menepuk-nepuk punggung gadis itu.
Jelas saja (namakamu) terkesiap, apa-apaan Iqbaal berkata seperti itu? Sejak kapan (namakamu) mengajari Iqbaal untuk berpakaian, melawan guru, dan duduk tidak sopan seperti itu? Terdengar gumaman ‘HAH?’ yang panjang mendominasi seisi kelas.
(namakamu) menepis tangan Iqbaal dipunggungnya. “Bohong, bu! Saya juga bukan siapa-siapanya dia, buat apa saya—“
“Dia pacar saya, bu. Kemarin dia cemburu sama Amanda, terus nyuruh saya pake baju kayak gini supaya ga ada cewek lain yang suka.”
‘Astaga... dasar korek yang suka nyulut api!’ (namakamu) menatap Iqbaal tajam.
“Ah, anak muda zaman sekarang sudah tidak ada yang benar.”
Guru itu mendekati meja (namakamu) dan Iqbaal. “dari penjelasan Iqbaal tadi, berarti kamu yang salah kan, (namakamu)?”
Gadis itu menatap gurunya dengan sengit. “Ibu kan belum tau dia boong atau engga, ga bisa seenaknya gitu dong!”
“Udahlah, bu. Hukum aja dua-duanya, biar jam belajar kita ga habis cuma buat nentuin siapa yang salah.” Salsha berucap.
BD. Salah satu pria yang sedari tadi memainkan pulpen diantara jemarinya juga angkat bicara, “Kalo mereka sama-sama ga mau dihukum, suruh ciuman di depan kelas aja, bu. Biar malu sekalian!”
Mata guru itu melotot ke arah BD, sementara pria itu hanya menyengir dan mengangkat dua jari membentuk V. Tanpa (namakamu) perlu tahu, Iqbaal sedikit menundukkan wajahnya karena pipinya merona.
Bodoh memang malah dia yang merona, tapi mau bagaimana lagi. Iqbaal rasa ciuman di depan kelas adalah ide yang bagus kalau saja... (namakamu) tidak menggebrak meja dan langsung berjalan keluar kelas. Ada apa dengan gadis itu? Apa dia tidak senang membayangkan berciuman dengan Iqbaal?
“(namakamu)!” panggil Iqbaal, namun gadis itu telah menghilang dibalik pintu kelas.
“Iqbaal, lebih baik kamu kejar dia! Dan hukuman kalian adalah...”
Belum selesai guru itu berbicara, Iqbaal sudah berdiri dan mulai berlari ke pintu kelas.
“Udahlah bu, biarin saya aja yang nentuin hukumannya. Anggep aja hari ini saya gurunya, okay, bu?”
Guru itu menatap punggung Iqbaal yang ikut menghilang dibalik pintu. Mulutnya menganga sejenak mengulang apa yang baru saja Iqbaal lakukan dan katakan padanya. Anak itu benar-benar menjengkelkan, belum lagi kekasihnya—(namakamu)—yang tadi menggebrak meja dan hampir membuatnya serangan jantung.
“IQBAAALLLLLLLLL, HUKUMAN KAMU IBU TAMBAH PULANG SEKOLAH NANTI!”
.
.
Mengumpati Iqbaal adalah kebiasaan (namakamu) setiap harinya. Ia tidak peduli mau ketinggalan pelajaran, diberi hukuman ataupun dikejar oleh pria itu, yang penting (namakamu) bisa keluar dari kelas.
Selain bosan belajar, gadis itu juga kesal dengan ucapan BD tadi. Dengan beraninya pria itu mengatakan agar Iqbaal dan (namakamu) berciuman di depan kelas. Memang dia pikir (namakamu) itu benar-benar kekasih Iqbaal? Sayangnya salah besar dan tidak akan pernah terjadi.
Ia memilih untuk masuk ke perpustakaan. Mungkin dengan berada disana, Iqbaal akan kehilangan jejaknya—karena gadis itu benar-benar muak melihat wajah Iqbaal. Gadis itu terus berjalan ke dalam tanpa melihat keadaan sekitar.
Padahal perpustakaan itu tidak ada penjaganya dan tercium bau asap rokok yang pekat. Seharusnya ia tahu bahwa ada yang tidak beres.
Tapi sayangnya, (namakamu) telah melangkah lebih jauh. Perpustakaan itu awalnya terlihat benar-benar kosong dan sepi. Namun beberapa meter di depannya, ia melihat ketiga pria itu asik merokok dan merasa terganggu akan kehadirannya.
Benar saja, ketika gadis itu berhenti di tempat, ia merasakan bahwa ia harus segera berputar balik sebelum... Salah satu tangan menahan tubuhnya agar tidak berputar balik.
“Mau kemana sih? Disini ga berlaku puter balik loh.” Ucap pemilik tangan yang berwarna cokelat gelap itu.
“Seneng-seneng aja dulu, lagian kita ga buru-buru buat ke kelas kok.”
‘Sekarang masalah apa lagi ini?’
Gadis itu menepis tangan yang menahan tubuhnya. “Gue salah masuk ruangan, misi...”
Lagi-lagi, tangan itu menahan tubuhnya yang hendak melangkah mundur. “Bagi lo salah, tapi bagi kita engga.”
(namakamu) jadi teringat Iqbaal. Seharusnya ia tidak berharap agar Iqbaal tidak mengikutinya, karena sekarang ia terjebak diantara tiga pria yang waktu itu Iqbaal bilang sebagai ‘Badboy kelas di bawah standar, gagal pula’.
Masalahnya, seringaian mereka terlalu jelek dan terlihat lebih menakutkan dibanding seringaian Iqbaal. Setidaknya Iqbaal adalah badboy berkelas, kalau ketiga pria di hadapannya ini... (namakamu) tidak yakin.
Yang memakai anting hitam bersiul keras dan memandangi tubuhnya dari atas hingga bawah. Lalu yang masih menahan tubuhnya, malah mengangkat sebelah alis ke arah teman lainnya. Sedangkan yang satu lagi hanya melipat kedua tangan di depan dada, tapi tatapannya tidak berpindah dari wajah (namakamu).
“Lo cewek yang pake mobil sport merah itu kan?”
(namakamu) tidak menjawab, ia merasakan nafasnya tertahan begitu saja. Gadis itu mencoba untuk melangkah mundur, tapi tangan yang menahan tubuhnya malah mendorong gadis itu ke depan dengan lebih keras.
(namakamu) nyaris jatuh kalau saja tangannya tidak bertumpu di bahu pria beranting di depannya.
“Untung ada gua, ya?” tanya pria itu, tatapannya menjadi lebih tajam ke arah (namakamu).
"Kita bertiga orangnya asik-asik kan?”
“Gue bener-bener harus ke kelas, bro.”
“Tapi gua ga pengen lo ke kelas, gua pengen lo seneng-seneng sama kita. Mau coba rokok?”
“Sayangnya gue lagi ga pengen seneng-seneng. Gue harus pergi,”
“Ga segampang itu kali. Lo yang udah ganggu kita duluan kan?”
“Gue ga bermaksud, gue pikir perpus ini kosong tapi ternyata ada kalian.”
“Kosong? Berarti penjaganya udah pergi dong? Wah, kalo gitu—“ pria itu menghembuskan asap rokoknya di sekitar wajah (namakamu). “perpus ini bener-bener milik kita berempat dong?”
(namakamu) terbatuk sejenak, ia bukan perokok aktif. Bisa-bisa ia terkena dampak yang lebih parah dibanding para perokok ini. Sekali lagi (namakamu) mencoba mundur, tapi pria beranting di hadapannya itu malah menarik tangannya.
“Kok muka lo pucet gitu sih? Sakit ya? Kalo sakit, tiduran aja disini gapapa. Kita ga keganggu.”
“Eh, bray!” pria yang berwajah lebih buruk menepuk pundak (namakamu). “boleh gua ngukur panjang rok lo pake jengkal gua?” lalu pria itu tertawa senang bersama dua lainnya.
“Lepasin tangan gue!” (namakamu) berusaha menggertak. “atau gue bakal panggil Iqbaal!”
“Iqbaal? Haahahaahah” pria beranting tertawa lebar.
“Lo tau udah berapa lama kita pengen bales dendam sama dia? Nyaris dua tahun! Dia itu sok raja di sekolah, semua cewek keliatan tunduk sama dia. Guru sayang dia karena dia pinter, dia mau bikin onar pun gapapa.”
“Sedangkan kita? Cuma dapet cewek yang ternyata mantan-mantan dari Iqbaal, setiap hari kena omelan guru. Bikin onar sedikit, hukumannya di skors dari sekolah. Gua benci sama cowok itu. Dulu waktu kita mau tawuran sama sekolah lain, cowok itu ngadu ke kepala sekolah.”
“Dia sok-sok bilang kalo mau jadi badboy bukan berarti tawuran. Padahal menurut gua, kalo mau jadi seorang badboy ya harus ngerasain tawuran dulu...”
(namakamu) tertawa sinis. “Iqbaal itu badboy berkelas, bukan amatiran kayak kalian!”
“Apa lo bilang? Kita amatir?”
“Ya. Sebadger apapun Iqbaal, dia ga bakal main keroyokan ke cewek kayak kalian gini. Dia ga pernah nahan satu cewek pun untuk dia manfaatin, diukur panjang roknya apalagi diajak ngerokok!”
“Lo boleh ngomong gitu, (namakamu).”
Pria beranting itu mengelus dagu (namakamu). “tapi sayangnya kita bukan Iqbaal yang berkelas. Kita bisa nyakitin cewek manapun, kapanpun, dan dengan alasan apapun.”
Gadis itu menampar pipi si pria beranting dengan keras. Sementara teman-temannya shock dengan kejadian itu, (namakamu) berlari ke pintu perpustakaan. Ia tahu dengan menampar pria itu, pasti mengalihkan perhatian dua lainnya. Ia tersenyum kecil, akhirnya tidak perlu menahan nafas lagi untuk berada diantara ketiga pria itu.
“Mau kemana lo, hah?”
(namakamu) baru saja ingin membuka pintunya lebih lebar, tapi si pria beranting menarik tangannya ke belakang. “Kita ga ada masalah apa-apa, jadi biarin gue pergi.”
“Lo lupa udah bilang kita amatiran? Dan... lo juga udah nampar gua!”
Gadis itu menoleh lagi ke arah pintu yang terbuka sedikit, terlihat siluet tubuh Iqbaal yang sedang berjalan mendekat. Tapi gadis itu terlalu bodoh sehingga pria beranting itu ikut melihat Iqbaal yang sedang kemari, ia mendorong pintu agar tertutup sepenuhnya.
“IQ—hmphhh”
Pria beranting itu tentu tahu bahwa (namakamu) akan meneriakkan nama Iqbaal, maka ia segera membekap mulut gadis itu dan menariknya menjauh dari pintu. Gadis itu meronta-ronta, tapi tidak berguna karena tenaga pria beranting itu terlalu besar.
“(namakamu)? Lo di dalem?” terdengar suara Iqbaal dari luar pintu.
“Hmphhh hmphhh”
“Syuuttt” pria beranting itu memelototi (namakamu). “gua pengen dia masuk ke dalem dan berusaha nolong lo. Tapi tetep aja ga akan berhasil, karena kedua temen gua bakal pukul dia dari belakang.”
‘Iqbaal... gue mohon lo masuk, tapi jaga-jaga dari arah belakang lo.’
“(namakamu)? Itu suara lo kan?”
Knop pintu mulai bergerak, (namakamu) masih berusaha melepaskan diri dari pria beranting itu. Sementara disisi kedua pintu, kedua teman pria beranting itu sudah siap dengan buku tebal dan vas yang tadinya ada di meja penjaga perpus.
Seperti di film-film, (namakamu) menggigit tangan pria itu dan menginjak kakinya dengan sekuat tenaga.
“IQBAAL! PERHATIIN BELAKANG LO!”
Iqbaal malah membuka pintu dengan santai, tapi ia tidak segera masuk. Jadi kedua teman pria beranting itu terkesiap saat hendak memukul Iqbaal, tapi nyatanya pria itu belum masuk ke dalam perpus.
“Kalian bertiga mau gua laporin ke kepala sekolah?”
Pria itu mendekat ke arah (namakamu) yang lengannya masih dipegang erat oleh si pria beranting.
“Karel, gua tau lo benci sama gua, tapi bukan berarti lo bisa ngeduluin gua buat nyakitin cewek rese ini.”
“Jadi, dia bukan pacar lo?” tanya pria beranting yang ternyata bernama Karel.
Iqbaal menggeleng, lalu menarik kasar tubuh (namakamu) dari Karel. “Gua punya masalah jauh lebih banyak sama cewek ini dibanding lo. Jadi, biar gua aja yang nyakitin dia.”
(namakamu) menyikut perut Iqbaal. “Lo—“
“Kalo gitu Karel, kita bakal nyelesain masalah kita di lain waktu. Tapi saran gua, one by one, okay?”
Iqbaal menatap tajam ke arah (namakamu), membuat gadis itu merasa kesal kembali. “Dan lo cewek rese, gua mau seneng-seneng sama lo jauh lebih menyenangkan daripada cara mereka tadi. Jadi, lo harus ikut gua!”
Baru beberapa langkah Iqbaal dan (namakamu) meninggalkan Karel, pria itu berbisik di telinga (namakamu). “Pelajaran kedua buat lo, jangan pake rok 15 cm diatas lutut kayak gini—ngundang setan tau ga?"
"Beruntung aja lo karena gua ga keundang setan, coba kalo gua keundang pasti lo udah—“
(namakamu) menarik kerah baju Iqbaal diikuti tatapan yang sinis. “Lo berani sama gue, gue bunuh lo sekarang juga, Baal!”
***
“Kalo gua bilang di rumah gua, ya kalian gaada yang bisa nolak. Turutin apa yang ketua kelas mau, kalo kalian ga mau punya masalah sama gua.”
BD memutar matanya, “Terserah lo deh, Baal. Yang penting kerja kelompoknya selesai hari ini juga.”
“Terus kita mau kesana pake apa?” tanya Dianty.
Iqbaal tidak menjawab, malah memperhatikan wajah (namakamu). Salsha menyikut lengan (namakamu) yang sedari tadi memejamkan matanya.
Gadis itu malas mendengar ucapan Iqbaal apalagi menatap wajahnya. Guru di kelas ini benar-benar menyebalkan, kenapa (namakamu) harus satu kelompok dengan Iqbaal? Meskipun ada Salsha, BD, dan Dianty, (namakamu) tahu bahwa Iqbaal akan memberikan tugas yang besar padanya.
“Apa, Sha?”
“Iqbaal dari tadi ngeliatin lo tuh,”
“Jelas aja gua ngeliatin dia.” Ucap Iqbaal. “karena gua mau minta tolong dia buat nganter kita ke rumah gua pake mobilnya.”
“Kalo gue ga mau gimana?”
“Ya, lo harus mau. Anggep aja dengan lo nganterin kita, berarti lo udah makasih sama gua karena kemaren gua udah nolongin lo dari Ka—“
“Shut up! Okay, kita ke mobil gue sekarang.”
.
.
Iqbaal mempersilahkan keempat temannya itu masuk ke dalam rumah. Disana mereka disambut oleh seorang gadis berwajah imut, rambut pirang, yang mengenalkan diri dengan nama ‘Steffi’.
BD sempat berkedip jahil ke arah gadis itu, tapi sayangnya gadis itu mengabaikannya dan malah mengikuti Iqbaal masuk ke dalam.Steffi terus memperhatikan saat mereka mengerjakan tugas presentasi di ruang tamu Iqbaal. Agak sedikit risih, karena Steffi duduk tepat di belakang Iqbaal.
Pemandangan yang aneh jika seorang adik terlalu protektif terhadap kakaknya, tapi (namakamu), Salsha dan Dianty tidak mau memikirkannya. Mungkin Steffi hanya ingin tahu apa yang sedang mereka kerjakan.
“Kakak-kakak yang cewek mau pulang kapan? Ini udah hampir maghrib loh...”
Serentak ketiga gadis itu menoleh ke arah Steffi. “Bentar lagi juga selesai kok, Steff.” Jawab Salsha mewakili yang lainnya.
“Yang cowok ga ditanya nih?” BD menaikkan sebelah alis ke arah Steffi.
“Hmm, kalo bisa sih yang cowok juga cepet-cepet pulang bareng kakak cewek yang lainnya.”
“Baal, adik lo sensi banget sama kita bertiga? Kenapa sih?” (namakamu) bertanya pada Iqbaal, tapi pandangannya masih ke arah Steffi yang mengerucutkan bibir.
Iqbaal menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Masalah banget sih sama lo, (namakamu). Bilang aja kalo lo masih mau lama-lama disini!”
“Kata siapa? Justru gue udah ngantuk banget, Baal! Mana presentasinya belum kelar-kelar,”
“Tidur aja di sofa, repot banget hidup lo.”
“Lo yang bikin hidup gue jadi repot!”
“Lo duluan yang ngerepotin hidup gua!”
“Mau lo apa sih, Baal?”
Iqbaal tersenyum miring. “Mau gua lo tidur aja di sofa, diem, terus bangunnya besok-besok aja biar hidup gua tenang.”
“Permintaan lo diterima. Hoaammm” (namakamu) pun menguap.
Steffi menatap (namakamu) yang berjalan ke arah sofa dengan sinis. Sedari tadi gadis itulah yang paling diperhatikan oleh kakaknya, berarti ada sesuatu diantara mereka berdua. Bahkan ketika gadis itu benar-benar sudah naik ke atas sofa dan tidur disana, Iqbaal masih terus memandanginya dan perlahan-lahan tersenyum.
Steffi segera menepuk bahu Iqbaal, “Kak, bantuin tuh temen-temennya yang lain biar tugasnya cepet kelar.”
Dianty dan Salsha terfokus pada layar laptop di meja karena mereka sedang mengedit bahan presentasi di dalamnya. Sedangkan BD sedang menulis pokok-pokok presentasi agar besok mereka bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
Iqbaal tidak tahu harus berbuat apa, tugasnya untuk mengetik sudah selesai dari tadi. Tapi setelah melihat (namakamu) tertidur diatas sofa, Iqbaal tahu jika ia punya tugas.
Tugas untuk terus memperhatikan wajah damai gadis itu. Tidak peduli jika Steffi masih berusaha menyuruhnya untuk ikut bekerja, toh Steffi tidak tahu bahwa tugas Iqbaal sudah selesai.
“Steffi, mendingan bantu kak BD deh sini!”
Steffi memutar mata, tapi ia tidak ingin menolak. “Yayaya, bantu apa kak?”
“Kamu dikte bacaan ini, biar aku yang nulis.”
Iqbaal menoleh ke arah BD, dan pria itu mengedipkan sebelah mata. BD tahu bahwa Iqbaal tidak ingin diganggu saat melihat (namakamu) tertidur. BD tahu Iqbaal cukup menyukai (namakamu), meskipun pria itu terlihat ogah-ogahan saat bersama (namakamu).
Iqbaal tersenyum lebar ke arah BD, lalu kembali menoleh ke arah (namakamu). Pria itu duduk lebih dekat dengan sofa yang ditiduri gadis itu. Kaki (namakamu) sedikit menekuk karena ukuran sofa tidak sesuai dengan panjang tubuhnya. Matanya terpejam cukup kuat, Iqbaal tahu bahwa gadis itu kelelahan.
“Tidur yang nyenyak, alien.”
Iqbaal terkekeh sendiri dengan panggilan yang ia berikan untuk (namakamu).
“Kalo lo ga tidur, pasti lo pengen tau kenapa gua panggil lo alien. Tapi untuk saat ini, biarin gua aja yang tau. Dan jangan lupa mimpiin gua ya, alien...”
“GIMANA GUE MAU TIDUR KALO LO NGOMONG MULU, IQBAAL!”
Bersambung...
***
@Febyanti_R
StoryPedia
Selasa, 24 Maret 2015
‘Sweet Bad Dreams’ Part 3 (By Febyanti R. from Andrea's Story)
‘Sweet Bad Dreams’
Part 3
_________________________
(namakamu) menatap pria sipit itu dengan intens, “Maksud dia kayak gitu apa sih?”
“Dia mau dihukum bareng lo, bodoh.”
‘Bodoh? Si es bilang gue bodoh? Emangnya dia bakal keliatan pinter karena sifat dinginnya itu?’
“Kenapa lo bisa tau?”
“Dulu gua pernah jadi korbannya. Dia mau dihukum bareng gua, karena semua hukumannya malah gua yang ngerjain.”
Gadis itu duduk menghadap Aldi, dan itu adalah kali pertamanya mereka saling menatap. Mata pria itu jauh terlihat lebih bad dibanding Iqbaal, tapi sifat dinginnya tidak membuktikan bahwa dia badboy.
Sedangkan Iqbaal sudah terlihat dari cara dia mendekati perempuan, memutuskan pacarnya, mengenakan seragam seenaknya, mengendarai skateboardnya, dan juga memerintah teman-temannya sesuai keinginannya.
Aldi berdeham, “Terima aja nasib lo, (namakamu)."
"Dia bakal modusin lo abis-abisan kalo seandainya kalian disuruh bersihin kamar mandi. Tapi kalo hukumannya suruh berdiri di tengah lapangan, dia bakal jalan-jalan dan beli minuman dingin terus manas-manasin lo.”
(namakamu) memutar matanya dengan malas. Iqbaal benar-benar pria yang puzzled. Ia terdiri dari berpuluh-puluh keping kepribadian yang sama sekali tidak tertebak.
“Kalo seandainya hukumannya lari ngelilingin lapangan gimana?”
Pria itu menatap (namakamu) dengan kernyitan. “Lo liat aja nanti.”
Aldi bangkit dari kursinya, dan memasukkan ponselnya ke saku. Tepat pada saat itu beberapa siswa lain masuk dan menatap mereka dengan aneh. Beberapa siswa itu mungkin berprasangka (namakamu) juga ada hubungan khusus dengan Aldi.
Dengan kerennya, pria itu seolah tidak peduli tatapan itu. Ia melipat kedua tangan di depan dada sembari berjalan melewati (namakamu).
Ia berucap dengan lirih sekali, “Semoga lo ga pingsan kalo kecapekan lari, karena lo tau cuma dia yang bakal gendong lo dengan modusnya. Hati-hati aja di deket dia.”
Pria itu pun berlalu keluar kelas dengan wajah yang datar, dingin, dan tatapan yang kosong.
(namakamu) menjambak rambutnya sendiri. Baru dua hari bersama Iqbaal di sekolah, rasanya sudah seperti ingin meledak-ledak karena pria itu tidak pernah bisa diam.
Selalu ada cara bagi dia untuk membuat keributan, kesakitan hatian, perkelahian, hukuman, dan apapun itu yang terdengar buruk di telinga (namakamu).
“Seburuk inikah nasib gue ketemu sama Iqbaal si badger boy? Atau masih ada yang jauh lebih buruk?”
Dan telinga gadis itu menangkap suara orang yang berteriak-teriak di luar kelas. Apa yang orang itu teriakkan membuatnya tersenyum puas, berbanding terbalik dengan beberapa siswa lainnya yang langsung keluar kelas dengan khawatir. (namakamu) tahu bahwa ia harus merasa senang karena ia mendengar teriakkan...
“IQBAAL JATOH, GUYS! Bibirnya berdarah!”
.
.
"Iqbaal sialan! Gue benci, benci, benci!"
(namakamu) mengumpati Iqbaal terus-menerus. Berkat bibirnya yang sedikit robek dan berdarah, pria itu disuruh beristirahat di ruang UKS.
Lalu apa kabar buku bahasa inggris milik (namakamu)? Buku itu sudah lebih dulu dirobek dan dibuang ke tempat sampah, sebelum Iqbaal tersandung di tangga dan bibirnya membentur ujung tangga yang keras. Itulah karma.
Gadis itu menjalankan hukuman seorang diri, tidak ada siswa lain dikelasnya yang tidak membawa buku bahasa Inggris. (namakamu) tadinya berharap Aldi mau berbohong seperti di film-film agar menemaninya dihukum di tengah lapangan.
Sayangnya, pria itu malah tidak peduli dan tidak ada satupun siswa dikelasnya yang simpati pada (namakamu). Nasib buruk, meski masih pagi, ternyata sinar matahari telah bersinar terik dan hanya gadis itu sendiri yang berada diluar kelas.
Satu jam berdiri di depan tiang, bukanlah waktu yang singkat. Setelah hukumannya selesai, (namakamu) segera berlari ke kantin tanpa peduli jika seharusnya ia kembali ke kelas dulu.
Percuma juga ia kembali ke kelas kalau sudah banjir keringat, yang ada belajarnya malah jadi tidak fokus. Dan... ugh betapa sialnya karena kakinya terasa kram tiba-tiba saat ia sedang berlari kencang.
(namakamu) memilih untuk berhenti daripada ia harus jatuh tanpa ada yang menolong. Ia terduduk disalah satu bangku kantin paling dekat. Kakinya kram pasti karena ia terlalu lama berdiri dan tidak sempat duduk, malah langsung berlari. Gadis itu memukul-mukul kedua kakinya yang mati rasa, namun tidak ada hasil apa-apa.
“Kalo tadi gua nemenin lo, pasti lo lebih milih pingsan daripada kram kayak gini kan?”
Suara menyebalkan itu... (namakamu) tidak mau menoleh untuknya. Gadis itu pura-pura tidak mendengar, namun ada sesuatu yang ditimpukkan oleh pria itu ke punggungnya. Seperti balok kecil dan rasanya dingin.
“Gua ngomong sama lo, (namakamu).”
PLUKK
Sekali lagi pria itu melemparkan es batu dari minumannya ke arah punggung (namakamu). Gadis itu bergidik dingin, dan akhirnya menoleh dengan tatapan malas. Iqbaal tersenyum sembari mengangkat sebelah alisnya, ia tahu (namakamu) tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya.
“Bisa ga sih lo gausah ganggu hidup gue? Dua hari berturut-turut, Baal.”
“Siapa juga yang mau ganggu hidup lo? Lo aja kali yang merasa jadi pemeran utama kalo lagi di deket gua.”
Iqbaal menyedot minumannya dengan kasar. Ia membeli seplastik teh dengan es-es batu yang cukup besar.
(namakamu) menelan ludahnya dalam-dalam, seketika rasa hausnya ingin membunuh tubuhnya sendiri. Iqbaal menjilati bibirnya yang basah, ia tahu bahwa gadis di hadapannya ini sedang mengharapkan apa yang ia punya. Es teh dingin.
Pria itu berpura-pura mendesah lega setelah menyedot es tehnya, terlihat wajah (namakamu) semakin memelas dan bibirnya terbuka setengah.
“Ahhh seger... Lo haus ga, (namakamu)?”
Gadis itu tidak menjawab, ia tidak mau ditawari atau diberikan apapun oleh Iqbaal. (namakamu) hanya mengatupkan mulutnya saat pria itu berdiri dari bangku yang tak jauh darinya, dan berjalan mendekat ke arahnya.
“Pasti lo kepanasan juga ya?” tanyanya basa-basi.
Merasa kakinya sudah pulih kembali, (namakamu) pun hendak berdiri. “Awas, gue mau pergi!” ucap gadis itu.
Tapi Iqbaal menahan pundaknya agar tetap duduk di tempat. (namakamu) mengernyit karena tatapan Iqbaal berubah sinis, lalu tangannya yang memegang plastik es terangkat ke atas.
Gadis itu mendongak, menunggu apa yang akan Iqbaal ucapkan ataupun lakukan. Dan ternyata, sebelum sempat gadis itu menghindar, Iqbaal sudah mengguyurkan es tehnya di atas kepala (namakamu).
“Gua kasih hujan khusus buat lo, nona (namakamu)...”
Seharusnya gadis itu masih bisa pergi, kalau saja Iqbaal tidak menahan sebelah pundaknya. Kali ini (namakamu) bergidik lebih kasar, bulir-bulir es batu itu menyusup di sekitar lehernya dan airnya terserap cepat ke dalam seragam pramukanya.
Gadis itu mengusap wajahnya yang kini lengket, begitu juga rambutnya yang berubah lepek. Iqbaal membuang plastik itu tepat ke atas rok (namakamu). Ia tersenyum puas.
“Mendingan lo pulang deh, baju lo udah campur sama keringet dan air teh. Gua ga sudi kalo nanti harus duduk di samping lo dan nyium betapa busuknya bau lo.”
“LO ITU ADA MASALAH APA SIH SAMA GUE, BAAL?”
(namakamu) berdiri dan mendorong kedua bahu Iqbaal. Pria itu hanya mundur beberapa langkah, ia tersenyum miring karena kekuatan (namakamu) tidak sebanding dengan dirinya.
“Ga ada masalah apa-apa. Gua cuma suka aja ngeliat lo marah sama gua,”
“Lo bisa ngelakuin itu sama cewek lain kan, Baal? Kenapa harus gue!”
(namakamu) menundukkan wajahnya, ia tidak sanggup menatap mata pria itu jika emosinya sudah tersulut. Ia tidak mau tiba-tiba tangan atau kakinya refleks melayang ke arah pria itu. Sudah cukup jauh ia berurusan dengan Iqbaal, jangan sampai lebih jauh lagi.
“Hampir semua cewek disini udah pernah ngerasain hal yang sama, (namakamu). Dan mereka ga kayak lo, mereka pasrah dan ga mau adu mulut... mereka malah nangis."
"Tapi lo beda, lo seolah tau apa yang bakal terjadi dan besoknya lo biasa-biasa aja. Gua mau tau seberapa sanggup lo ada di deket gua.”
“Tapi gue ga mau lo tau seberapa sanggup gue ada di deket lo. Gua muak, Baal! Lo itu terlalu banyak cari perhatian tau ga?”
“Gua tau, lagipula semua orang disini perhatian sama gua kok.”
Gadis itu mendongak kembali dan pandangannya tertuju pada bibir pria itu. Bibir bawahnya yang sedikit basah, namun tetap terlihat ada luka robek dan darah kering.
Ia tahu bahwa itu sasarannya agar Iqbaal bisa diam, dan tidak memperlakukan (namakamu) seenaknya. Gadis itu tidak mau jatuh cinta pada Iqbaal, ia ingin Iqbaal yang bertekuk lutut padanya.
“Kenapa lo ngeliatin bibir gua? Apa lo mulai tertarik sama gua? Lo telat!” tanya Iqbaal terdengar sarkastik.
“Gue jauh lebih tertarik sama lo kalo bibir lo...”
Gadis itu melayangkan kepalan tangan kanannya tepat ke bibir Iqbaal yang robek. Tenaganya cukup kuat sehingga kepala Iqbaal bergerak searah dengan datangnya tinjuan itu. “Kayak gini, Baal.”
Iqbaal menyentuh bibirnya yang kini berdarah lagi. Sebelumnya ia menjerit tertahan karena bibirnya yang belum sembuh, sudah ditambah rasa sakit lagi. Ia menatap (namakamu) dengan tajam, tapi gadis itu malah mengusap-ngusap rambutnya dan lama-kelamaan meremasnya.
Pria itu mendesis, tidak cukupkah bibirnya yang meneteskan darah? Kini harus ditambah dengan jambakkan rambut juga?
“Lain kali, kalo mau cari masalah jangan sama gue. Cewek kan jumlahnya milyaran, lo cari aja yang paling bodoh karena bisa jatuh cinta sama lo.”
(namakamu) menjambak lebih kencang, dan sedikit berjinjit agar bisa berbisik di telinga pria itu.
“Dan yang pasti, cewek itu bukan gue, tuan Dhiafakhri.” Ucap gadis itu yang sambil lalu meninggalkan Iqbaal dengan bibir yang masih meneteskan darah.
***
Kali pertamanya (namakamu) berterima kasih pada Cassie dan Bella adalah hari ini. Beberapa jam lalu merekalah yang menemani (namakamu) di kantin.
Gadis itu tidak mood untuk kembali ke kelas, dan kebetulan sekali di jam istirahat keduanya datang menemani (namakamu). Mereka pun berbincang panjang lebar sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan keduanya berpamitan.
Saat kelas sudah terlihat sepi, (namakamu) baru kembali lagi kesana. Ia ingin mengambil tas, menanyakan tugas langsung ke guru di kantor, lalu pulang. Masih ada Aldi disana, ia sedang mengangkat ponselnya ke atas dan tepat ke arah (namakamu). Setelah terdengar bunyi ‘CKREK’ (namakamu) baru sadar bahwa Aldi baru saja memotretnya.
“Lo foto gue ya, Ald?” (namakamu) mendekati Aldi dengan mata menyipit.
“Iya. Sejenis foto candid, mungkin?”
“Buat apa lo foto gue?”
“Ga buat apa-apa.” Aldi menyampirkan tasnya dipunggung, lalu berjalan keluar kelas meninggalkan (namakamu) yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pria-pria di dekatnya ini sepertinya aneh, tidak ada satupun yang benar sifatnya. Iqbaal bersifat badger boy, sedangkan Aldi bersifat freeze. Adakah normally guy diantara keduanya?
Tidak mau pikir panjang lagi, (namakamu) segera membawa tasnya dan meninggalkan kelas yang sudah kosong. Resleting depan tas gadis itu terbuka, dan ada secarik kertas yang muncul dari dalamnya.
Sembari terus berjalan ke arah ruang guru, (namakamu) mengambil kertas itu dan mulai membacanya. Ternyata itu adalah catatan tugas dari seseorang dengan inisial A, yang bisa dipastikan bahwa itu Aldi. Gadis itu berterima kasih dalam hati, ternyata pria itu tahu apa yang ia butuhkan. Tidak perlu lagi (namakamu) menghampiri ruang guru, jadi ia langsung membelokkan arah ke lahan parkir.
(namakamu) menutup atap mobilnya, karena ia ingin membuka pakaiannya didalam. Ia membuka seluruh kancing atasan pramuka-nya dan menampakkan tanktop hitam di baliknya.
Gadis itu memakai kacamata hitamnya lagi, dan mulai mengendarai mobil meninggalkan sekolah. Dari spion, ia bisa melihat beberapa pria sedang menatap mobilnya dari kejauhan dengan cengiran lebar.
‘Iqbaal mana, ya?’ tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benak (namakamu).
‘Eits, buat apa gue mikirin dia? Bukannya bagus kalo dia ga pernah muncul lagi di depan gue?’
Ia membelokkan mobil ke arah kanan dan memelankan lajunya. (namakamu) melihat sepasang kekasih sedang bergandengan tangan di trotoar yang berjarak beberapa meter dari sekolah. Keduanya memakai seragam sekolah yang sama dengan dirinya.
Dan gadis itu merasa bahwa ia mengenal si pria, yang jelas-jelas menenteng skateboard di tangan kirinya dan tangan kanannya menggengam tangan si gadis di sebelahnya.
(namakamu) mempercepat laju mobilnya dan berhenti beberapa meter dari jarak sepasang kekasih yang sedang berjalan itu. Perlahan-lahan ia membuka kaca mobilnya, bersiap untuk menyemburkan kata-kata pada Iqbaal.
Dari spion, (namakamu) bisa melihat gadis yang bersama Iqbaal itu tersenyum bahagia. Bukan Salsha, dan bukan anak satu kelasnya.
Rambutnya hitam sebahu, matanya sipit seperti orang Jepang, memakai sweater pink, dan kalau tidak salah namanya Amanda. Suara Iqbaal yang memanggil nama gadis itu sampai terdengar di telinga (namakamu). Pria itu memang suka mencari perhatian.
“Amanda, besok kita ngedate kemana nih?” tanya Iqbaal.
Gadis berponi depan itu menempelkan tubuhnya lebih dekat dengan Iqbaal. “Ke mana pun kamu mau, aku juga mau, Baal.”
“Ah, kalo gitu kita ke bioskop aja nonton film horror? Pulangnya kita karaoke-an, terus aku anterin kamu pulang deh...”
“Kamu nganterin pake apa, Baal?”
“Hmm... biar anti mainstream, aku mau gendong kamu sampe rumah!”
Wajah Amanda terlihat memerah, sementara (namakamu) yang menunggu keduanya melewati mobilnya sudah memutar mata.
Begitukah setiap pasangan yang baru jadian? Bermesra-mesraan di jalan sampai cara berjalannya seperti siput? Bisanya hanya memanas-manasi orang lain yang sedang sendirian?
Iqbaal mengecup puncak kepala Amanda dengan setengah hati. Tentu saja, karena seorang badger boy tidak akan pernah memberikan sepenuh hatinya pada seorang gadis.
Badger boy adalah orang yang suka berganti-ganti pasangan, egois, ambisius, kepala batu, trouble maker, tapi banyak gadis yang mengincar pria seperti itu dimasa mudanya.
Tidak terasa, akhirnya mereka berjalan semakin dekat. (namakamu) mulai memunculkan setengah kepalanya keluar jendela mobil, masih dengan kacamata yang melekat. Tangannya ia letakkan di bingkai jendela, sudah seperti orang yang putus asa karena jalanan macet.
Pria itu melihat mobil merah mencolok di depannya. Dan saat gadis itu menampakkan kepalanya, nafasnya terasa berhenti begitu saja. Bukan karena Iqbaal takut dan bukan karena Iqbaal suka padanya.
Ia hanya merasa harus menahan sesuatu yang meluap-luap senang di dalam dadanya. Setiap kali melihat gadis itu, pasti dada Iqbaal terasa mengembang dan hatinya tersenyum begitu saja.
“Baal, kamu ngeliatin apa sih?”
“DIA NGELIATIN GUE,” jawab (namakamu) dengan suara yang keras.
“DIA ITU PACAR GUE DAN DIA ITU LAGI JADIIN LO SELINGKUHANNYA, AMANDA.”
Iqbaal langsung membulatkan matanya, ia merasakan Amanda menjauh dari sisinya. Apa-apaan gadis itu mengatakan bahwa Iqbaal pacarnya dan menjadikan Amanda sebagai selingkuhan? Iqbaal merasakan hantaman di pundaknya, saat menoleh, ia melihat wajah Amanda menahan marah.
“Apa bener kata cewek itu, Baal? Jadi dia pacar kamu yang sesungguhnya?”
“Bu—“
(namakamu) membuka kacamatanya, lalu menatap sepasang kekasih bermasalah yang berdiri di samping mobilnya itu.
“Amanda, kalo lo ga percaya, lo bisa cek bibir bawahnya dia. Disana robekan di bibirnya jadi lebih besar, karena lo tau? Tadi kita ciuman dan ga sengaja gue gigit bibirnya.”
Amanda langsung memegang dagu Iqbaal, dan matanya terfokus pada bibir bawah pria itu. Ya, setahunya tadi pagi—setelah Iqbaal jatuh—robekan di bibirnya masih terlihat kecil. Tapi sekarang, robekan itu terlihat lebih besar dan agak bengkak. Seperti ada yang benar-benar menggigitnya.
“Aku ga—“ Iqbaal menggelengkan kepala di depan Amanda, tapi gadis itu langsung menampar pipi Iqbaal.
PLAKK
“Lo keterluan! Belum ada satu hari kita jadian, ternyata lo cuma jadiin gue selingkuhan, ha? Terus untuk apa lo pagi-pagi SMS gue dan bilang kalo lo cinta? KITA PUTUS!”
“Harusnya gue tau, ga akan ada cowok yang nembak cewek secara serius lewat SMS! Harusnya gue tanya dulu sama Salsha karena dia salah satu korban permainan hati lo! Dasar mulut penuh bullshit, mendingan lo pergi ke ujung dunia aja sana!”
‘Kalo perlu gausah balik lagi,’ ucap (namakamu) dalam hati.
Iqbaal memegangi pipinya yang merah. Ia memang badger boy, tapi ia tidak akan melakukan kekerasan fisik pada seorang gadis. Tapi rasanya ia ingin menjambakki rambut (namakamu) habis-habisan, gadis itu belum puas juga meski tadi pagi sudah membuat bibir Iqbaal robek lebih lebar.
“Dan Iqbaal!” (namakamu) kembali bersuara. Ia tersenyum miring saat Iqbaal dan Amanda menatapnya tajam.
“Mulai hari ini, kita putus juga kan? BYE!”
Gadis itu tidak lagi menampakkan wajah di jendela. Ia segera melajukan mobilnya lagi, dan meninggalkan sepasang mantan kekasih itu dengan tanda tanya besar.
Iqbaal pasti mengerti, karena ia tahu (namakamu) hanya membalas perbuatannya di hari-hari kemarin. Sementara Amanda menganggap itu sungguhan. Dan tanpa mendengar penjelasan sedikitpun dari Iqbaal, Amanda berlari kembali ke sekolah sembari menangis.
Tangan kanan Iqbaal terkepal marah. “Lo boleh menang kali ini, (namakamu). Tapi, lo ga akan pernah bisa keluar dari masalah yang bakal gua buat untuk lo!"
"Liat aja, pada akhirnya pasti lo yang bakal bertekuk lutut sama gua.”
***
Sembari menunggu Iqbaal yang mandi di kamarnya, Steffi memperhatikan layar ponselnya berkali-kali.
Ada sebuah foto yang membuatnya begitu jengkel dan terganggu. Ia tidak bisa sesering dulu untuk mengunjungi Iqbaal di sekolahnya, karena sebentar lagi Steffi akan memasuki bangku kelas 9 semester 2.
Gadis itu mencuri-curi pandang ke arah ponsel Iqbaal yang tergeletak di meja. Karena mungkin saja di dalam ponsel kakaknya itu bisa ditemukan lebih banyak foto yang membuatnya jengkel dan terganggu.
Ia tahu passwordnya, maka Steffi segera membuka galeri, pesan, dan kontak di ponsel kakaknya. Yang ia incar di galeri adalah foto Iqbaal dan beberapa gadis, ternyata ada. Tapi di folder foto itu tertulis ‘mantan’ berarti bukan gadis-gadis itu yang menjadi saingan Steffi saat ini.
“Tapi pasti ada cewek yang lagi berusaha deketin kak Iqbaal, ataupun sebaliknya...”
Steffi beralih pada pesan. Tentu saja terdapat pesan sayang-sayangan dan tembak-tembakkan disana, hanya saja waktunya beberapa hari lalu dan balasannya tidak semua mengenakkan.
Pesan yang baru saja masuk adalah dari Amanda. Ia menyatakan kecewa karena Iqbaal telah menjadikannya selingkuhan.
“Selingkuhan?” Steffi membulatkan matanya. “berarti kak Iqbaal udah punya pacar lagi sekarang?”
Belum sempat Steffi beralih ke kontak, ia mendengar suara pintu terbuka di kamar atas. Iqbaal sudah selesai mandi rupanya, maka ia segera mengunci ponsel kakaknya itu dan menaruhnya kembali. Ia menghela nafas panjang, lalu berpura-pura asik memainkan ponselnya sendiri.
Iqbaal bersiul sembari mengeringkan rambutnya dengn handuk. Ujung rambutnya jadi terlihat tajam karena masih basah, lalu titik-titik air di sekitar pelipisnya menambah kesan bahwa dia terlihat segar. Pria itu mengenakan celana biru dongker selutut dengan kaos cokelat dengan kancing terbuka semua.
‘WOW!’ Steffi berteriak dalam hati saat Iqbaal duduk di sofa sebelahnya.
“Kamu kok kayaknya serius banget main hp-nya?”
“E-engga kok, kak. Cuma lagi liat timeline aja, kali aja ada cewek yang minta tolong Steffi buat dicomblangin sama kakak.”
“Pas banget tuh! Kakak lagi ga punya pacar nih...” Iqbaal mengerucutkan bibirnya.
Seolah memiliki auto focus di matanya, Steffi langsung menangkap bibir bawah Iqbaal yang bengkak. Ia mencondongkan kepala lebih dekat dengan kakaknya itu, dan benar saja Iqbaal terlihat menutup-nutupinya dengan mengalihkan pandangan.
Steffi langsung memegang dagu kakaknya dengan kencang, lalu jemarinya meraba bagian bibir Iqbaal yang bengkak.
“Aw!”
“Berantem lagi? Sama siapa?” suara Steffi terdengar tegas.
“Jatuh dari—“
“Jangan-jangan... kakak udah berani ciuman sama cewek ya? Siapa cewek yang berani gigit bibir kakak sampe kayak gitu, hah?”
Steffi mendengus. “Pasti ceweknya jelmaan monster!”
Bersambung...
***
@Febyanti_R
Part 3
_________________________
(namakamu) menatap pria sipit itu dengan intens, “Maksud dia kayak gitu apa sih?”
“Dia mau dihukum bareng lo, bodoh.”
‘Bodoh? Si es bilang gue bodoh? Emangnya dia bakal keliatan pinter karena sifat dinginnya itu?’
“Kenapa lo bisa tau?”
“Dulu gua pernah jadi korbannya. Dia mau dihukum bareng gua, karena semua hukumannya malah gua yang ngerjain.”
Gadis itu duduk menghadap Aldi, dan itu adalah kali pertamanya mereka saling menatap. Mata pria itu jauh terlihat lebih bad dibanding Iqbaal, tapi sifat dinginnya tidak membuktikan bahwa dia badboy.
Sedangkan Iqbaal sudah terlihat dari cara dia mendekati perempuan, memutuskan pacarnya, mengenakan seragam seenaknya, mengendarai skateboardnya, dan juga memerintah teman-temannya sesuai keinginannya.
Aldi berdeham, “Terima aja nasib lo, (namakamu)."
"Dia bakal modusin lo abis-abisan kalo seandainya kalian disuruh bersihin kamar mandi. Tapi kalo hukumannya suruh berdiri di tengah lapangan, dia bakal jalan-jalan dan beli minuman dingin terus manas-manasin lo.”
(namakamu) memutar matanya dengan malas. Iqbaal benar-benar pria yang puzzled. Ia terdiri dari berpuluh-puluh keping kepribadian yang sama sekali tidak tertebak.
“Kalo seandainya hukumannya lari ngelilingin lapangan gimana?”
Pria itu menatap (namakamu) dengan kernyitan. “Lo liat aja nanti.”
Aldi bangkit dari kursinya, dan memasukkan ponselnya ke saku. Tepat pada saat itu beberapa siswa lain masuk dan menatap mereka dengan aneh. Beberapa siswa itu mungkin berprasangka (namakamu) juga ada hubungan khusus dengan Aldi.
Dengan kerennya, pria itu seolah tidak peduli tatapan itu. Ia melipat kedua tangan di depan dada sembari berjalan melewati (namakamu).
Ia berucap dengan lirih sekali, “Semoga lo ga pingsan kalo kecapekan lari, karena lo tau cuma dia yang bakal gendong lo dengan modusnya. Hati-hati aja di deket dia.”
Pria itu pun berlalu keluar kelas dengan wajah yang datar, dingin, dan tatapan yang kosong.
(namakamu) menjambak rambutnya sendiri. Baru dua hari bersama Iqbaal di sekolah, rasanya sudah seperti ingin meledak-ledak karena pria itu tidak pernah bisa diam.
Selalu ada cara bagi dia untuk membuat keributan, kesakitan hatian, perkelahian, hukuman, dan apapun itu yang terdengar buruk di telinga (namakamu).
“Seburuk inikah nasib gue ketemu sama Iqbaal si badger boy? Atau masih ada yang jauh lebih buruk?”
Dan telinga gadis itu menangkap suara orang yang berteriak-teriak di luar kelas. Apa yang orang itu teriakkan membuatnya tersenyum puas, berbanding terbalik dengan beberapa siswa lainnya yang langsung keluar kelas dengan khawatir. (namakamu) tahu bahwa ia harus merasa senang karena ia mendengar teriakkan...
“IQBAAL JATOH, GUYS! Bibirnya berdarah!”
.
.
"Iqbaal sialan! Gue benci, benci, benci!"
(namakamu) mengumpati Iqbaal terus-menerus. Berkat bibirnya yang sedikit robek dan berdarah, pria itu disuruh beristirahat di ruang UKS.
Lalu apa kabar buku bahasa inggris milik (namakamu)? Buku itu sudah lebih dulu dirobek dan dibuang ke tempat sampah, sebelum Iqbaal tersandung di tangga dan bibirnya membentur ujung tangga yang keras. Itulah karma.
Gadis itu menjalankan hukuman seorang diri, tidak ada siswa lain dikelasnya yang tidak membawa buku bahasa Inggris. (namakamu) tadinya berharap Aldi mau berbohong seperti di film-film agar menemaninya dihukum di tengah lapangan.
Sayangnya, pria itu malah tidak peduli dan tidak ada satupun siswa dikelasnya yang simpati pada (namakamu). Nasib buruk, meski masih pagi, ternyata sinar matahari telah bersinar terik dan hanya gadis itu sendiri yang berada diluar kelas.
Satu jam berdiri di depan tiang, bukanlah waktu yang singkat. Setelah hukumannya selesai, (namakamu) segera berlari ke kantin tanpa peduli jika seharusnya ia kembali ke kelas dulu.
Percuma juga ia kembali ke kelas kalau sudah banjir keringat, yang ada belajarnya malah jadi tidak fokus. Dan... ugh betapa sialnya karena kakinya terasa kram tiba-tiba saat ia sedang berlari kencang.
(namakamu) memilih untuk berhenti daripada ia harus jatuh tanpa ada yang menolong. Ia terduduk disalah satu bangku kantin paling dekat. Kakinya kram pasti karena ia terlalu lama berdiri dan tidak sempat duduk, malah langsung berlari. Gadis itu memukul-mukul kedua kakinya yang mati rasa, namun tidak ada hasil apa-apa.
“Kalo tadi gua nemenin lo, pasti lo lebih milih pingsan daripada kram kayak gini kan?”
Suara menyebalkan itu... (namakamu) tidak mau menoleh untuknya. Gadis itu pura-pura tidak mendengar, namun ada sesuatu yang ditimpukkan oleh pria itu ke punggungnya. Seperti balok kecil dan rasanya dingin.
“Gua ngomong sama lo, (namakamu).”
PLUKK
Sekali lagi pria itu melemparkan es batu dari minumannya ke arah punggung (namakamu). Gadis itu bergidik dingin, dan akhirnya menoleh dengan tatapan malas. Iqbaal tersenyum sembari mengangkat sebelah alisnya, ia tahu (namakamu) tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya.
“Bisa ga sih lo gausah ganggu hidup gue? Dua hari berturut-turut, Baal.”
“Siapa juga yang mau ganggu hidup lo? Lo aja kali yang merasa jadi pemeran utama kalo lagi di deket gua.”
Iqbaal menyedot minumannya dengan kasar. Ia membeli seplastik teh dengan es-es batu yang cukup besar.
(namakamu) menelan ludahnya dalam-dalam, seketika rasa hausnya ingin membunuh tubuhnya sendiri. Iqbaal menjilati bibirnya yang basah, ia tahu bahwa gadis di hadapannya ini sedang mengharapkan apa yang ia punya. Es teh dingin.
Pria itu berpura-pura mendesah lega setelah menyedot es tehnya, terlihat wajah (namakamu) semakin memelas dan bibirnya terbuka setengah.
“Ahhh seger... Lo haus ga, (namakamu)?”
Gadis itu tidak menjawab, ia tidak mau ditawari atau diberikan apapun oleh Iqbaal. (namakamu) hanya mengatupkan mulutnya saat pria itu berdiri dari bangku yang tak jauh darinya, dan berjalan mendekat ke arahnya.
“Pasti lo kepanasan juga ya?” tanyanya basa-basi.
Merasa kakinya sudah pulih kembali, (namakamu) pun hendak berdiri. “Awas, gue mau pergi!” ucap gadis itu.
Tapi Iqbaal menahan pundaknya agar tetap duduk di tempat. (namakamu) mengernyit karena tatapan Iqbaal berubah sinis, lalu tangannya yang memegang plastik es terangkat ke atas.
Gadis itu mendongak, menunggu apa yang akan Iqbaal ucapkan ataupun lakukan. Dan ternyata, sebelum sempat gadis itu menghindar, Iqbaal sudah mengguyurkan es tehnya di atas kepala (namakamu).
“Gua kasih hujan khusus buat lo, nona (namakamu)...”
Seharusnya gadis itu masih bisa pergi, kalau saja Iqbaal tidak menahan sebelah pundaknya. Kali ini (namakamu) bergidik lebih kasar, bulir-bulir es batu itu menyusup di sekitar lehernya dan airnya terserap cepat ke dalam seragam pramukanya.
Gadis itu mengusap wajahnya yang kini lengket, begitu juga rambutnya yang berubah lepek. Iqbaal membuang plastik itu tepat ke atas rok (namakamu). Ia tersenyum puas.
“Mendingan lo pulang deh, baju lo udah campur sama keringet dan air teh. Gua ga sudi kalo nanti harus duduk di samping lo dan nyium betapa busuknya bau lo.”
“LO ITU ADA MASALAH APA SIH SAMA GUE, BAAL?”
(namakamu) berdiri dan mendorong kedua bahu Iqbaal. Pria itu hanya mundur beberapa langkah, ia tersenyum miring karena kekuatan (namakamu) tidak sebanding dengan dirinya.
“Ga ada masalah apa-apa. Gua cuma suka aja ngeliat lo marah sama gua,”
“Lo bisa ngelakuin itu sama cewek lain kan, Baal? Kenapa harus gue!”
(namakamu) menundukkan wajahnya, ia tidak sanggup menatap mata pria itu jika emosinya sudah tersulut. Ia tidak mau tiba-tiba tangan atau kakinya refleks melayang ke arah pria itu. Sudah cukup jauh ia berurusan dengan Iqbaal, jangan sampai lebih jauh lagi.
“Hampir semua cewek disini udah pernah ngerasain hal yang sama, (namakamu). Dan mereka ga kayak lo, mereka pasrah dan ga mau adu mulut... mereka malah nangis."
"Tapi lo beda, lo seolah tau apa yang bakal terjadi dan besoknya lo biasa-biasa aja. Gua mau tau seberapa sanggup lo ada di deket gua.”
“Tapi gue ga mau lo tau seberapa sanggup gue ada di deket lo. Gua muak, Baal! Lo itu terlalu banyak cari perhatian tau ga?”
“Gua tau, lagipula semua orang disini perhatian sama gua kok.”
Gadis itu mendongak kembali dan pandangannya tertuju pada bibir pria itu. Bibir bawahnya yang sedikit basah, namun tetap terlihat ada luka robek dan darah kering.
Ia tahu bahwa itu sasarannya agar Iqbaal bisa diam, dan tidak memperlakukan (namakamu) seenaknya. Gadis itu tidak mau jatuh cinta pada Iqbaal, ia ingin Iqbaal yang bertekuk lutut padanya.
“Kenapa lo ngeliatin bibir gua? Apa lo mulai tertarik sama gua? Lo telat!” tanya Iqbaal terdengar sarkastik.
“Gue jauh lebih tertarik sama lo kalo bibir lo...”
Gadis itu melayangkan kepalan tangan kanannya tepat ke bibir Iqbaal yang robek. Tenaganya cukup kuat sehingga kepala Iqbaal bergerak searah dengan datangnya tinjuan itu. “Kayak gini, Baal.”
Iqbaal menyentuh bibirnya yang kini berdarah lagi. Sebelumnya ia menjerit tertahan karena bibirnya yang belum sembuh, sudah ditambah rasa sakit lagi. Ia menatap (namakamu) dengan tajam, tapi gadis itu malah mengusap-ngusap rambutnya dan lama-kelamaan meremasnya.
Pria itu mendesis, tidak cukupkah bibirnya yang meneteskan darah? Kini harus ditambah dengan jambakkan rambut juga?
“Lain kali, kalo mau cari masalah jangan sama gue. Cewek kan jumlahnya milyaran, lo cari aja yang paling bodoh karena bisa jatuh cinta sama lo.”
(namakamu) menjambak lebih kencang, dan sedikit berjinjit agar bisa berbisik di telinga pria itu.
“Dan yang pasti, cewek itu bukan gue, tuan Dhiafakhri.” Ucap gadis itu yang sambil lalu meninggalkan Iqbaal dengan bibir yang masih meneteskan darah.
***
Kali pertamanya (namakamu) berterima kasih pada Cassie dan Bella adalah hari ini. Beberapa jam lalu merekalah yang menemani (namakamu) di kantin.
Gadis itu tidak mood untuk kembali ke kelas, dan kebetulan sekali di jam istirahat keduanya datang menemani (namakamu). Mereka pun berbincang panjang lebar sampai akhirnya bel masuk berbunyi dan keduanya berpamitan.
Saat kelas sudah terlihat sepi, (namakamu) baru kembali lagi kesana. Ia ingin mengambil tas, menanyakan tugas langsung ke guru di kantor, lalu pulang. Masih ada Aldi disana, ia sedang mengangkat ponselnya ke atas dan tepat ke arah (namakamu). Setelah terdengar bunyi ‘CKREK’ (namakamu) baru sadar bahwa Aldi baru saja memotretnya.
“Lo foto gue ya, Ald?” (namakamu) mendekati Aldi dengan mata menyipit.
“Iya. Sejenis foto candid, mungkin?”
“Buat apa lo foto gue?”
“Ga buat apa-apa.” Aldi menyampirkan tasnya dipunggung, lalu berjalan keluar kelas meninggalkan (namakamu) yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Pria-pria di dekatnya ini sepertinya aneh, tidak ada satupun yang benar sifatnya. Iqbaal bersifat badger boy, sedangkan Aldi bersifat freeze. Adakah normally guy diantara keduanya?
Tidak mau pikir panjang lagi, (namakamu) segera membawa tasnya dan meninggalkan kelas yang sudah kosong. Resleting depan tas gadis itu terbuka, dan ada secarik kertas yang muncul dari dalamnya.
Sembari terus berjalan ke arah ruang guru, (namakamu) mengambil kertas itu dan mulai membacanya. Ternyata itu adalah catatan tugas dari seseorang dengan inisial A, yang bisa dipastikan bahwa itu Aldi. Gadis itu berterima kasih dalam hati, ternyata pria itu tahu apa yang ia butuhkan. Tidak perlu lagi (namakamu) menghampiri ruang guru, jadi ia langsung membelokkan arah ke lahan parkir.
(namakamu) menutup atap mobilnya, karena ia ingin membuka pakaiannya didalam. Ia membuka seluruh kancing atasan pramuka-nya dan menampakkan tanktop hitam di baliknya.
Gadis itu memakai kacamata hitamnya lagi, dan mulai mengendarai mobil meninggalkan sekolah. Dari spion, ia bisa melihat beberapa pria sedang menatap mobilnya dari kejauhan dengan cengiran lebar.
‘Iqbaal mana, ya?’ tiba-tiba pertanyaan itu muncul di benak (namakamu).
‘Eits, buat apa gue mikirin dia? Bukannya bagus kalo dia ga pernah muncul lagi di depan gue?’
Ia membelokkan mobil ke arah kanan dan memelankan lajunya. (namakamu) melihat sepasang kekasih sedang bergandengan tangan di trotoar yang berjarak beberapa meter dari sekolah. Keduanya memakai seragam sekolah yang sama dengan dirinya.
Dan gadis itu merasa bahwa ia mengenal si pria, yang jelas-jelas menenteng skateboard di tangan kirinya dan tangan kanannya menggengam tangan si gadis di sebelahnya.
(namakamu) mempercepat laju mobilnya dan berhenti beberapa meter dari jarak sepasang kekasih yang sedang berjalan itu. Perlahan-lahan ia membuka kaca mobilnya, bersiap untuk menyemburkan kata-kata pada Iqbaal.
Dari spion, (namakamu) bisa melihat gadis yang bersama Iqbaal itu tersenyum bahagia. Bukan Salsha, dan bukan anak satu kelasnya.
Rambutnya hitam sebahu, matanya sipit seperti orang Jepang, memakai sweater pink, dan kalau tidak salah namanya Amanda. Suara Iqbaal yang memanggil nama gadis itu sampai terdengar di telinga (namakamu). Pria itu memang suka mencari perhatian.
“Amanda, besok kita ngedate kemana nih?” tanya Iqbaal.
Gadis berponi depan itu menempelkan tubuhnya lebih dekat dengan Iqbaal. “Ke mana pun kamu mau, aku juga mau, Baal.”
“Ah, kalo gitu kita ke bioskop aja nonton film horror? Pulangnya kita karaoke-an, terus aku anterin kamu pulang deh...”
“Kamu nganterin pake apa, Baal?”
“Hmm... biar anti mainstream, aku mau gendong kamu sampe rumah!”
Wajah Amanda terlihat memerah, sementara (namakamu) yang menunggu keduanya melewati mobilnya sudah memutar mata.
Begitukah setiap pasangan yang baru jadian? Bermesra-mesraan di jalan sampai cara berjalannya seperti siput? Bisanya hanya memanas-manasi orang lain yang sedang sendirian?
Iqbaal mengecup puncak kepala Amanda dengan setengah hati. Tentu saja, karena seorang badger boy tidak akan pernah memberikan sepenuh hatinya pada seorang gadis.
Badger boy adalah orang yang suka berganti-ganti pasangan, egois, ambisius, kepala batu, trouble maker, tapi banyak gadis yang mengincar pria seperti itu dimasa mudanya.
Tidak terasa, akhirnya mereka berjalan semakin dekat. (namakamu) mulai memunculkan setengah kepalanya keluar jendela mobil, masih dengan kacamata yang melekat. Tangannya ia letakkan di bingkai jendela, sudah seperti orang yang putus asa karena jalanan macet.
Pria itu melihat mobil merah mencolok di depannya. Dan saat gadis itu menampakkan kepalanya, nafasnya terasa berhenti begitu saja. Bukan karena Iqbaal takut dan bukan karena Iqbaal suka padanya.
Ia hanya merasa harus menahan sesuatu yang meluap-luap senang di dalam dadanya. Setiap kali melihat gadis itu, pasti dada Iqbaal terasa mengembang dan hatinya tersenyum begitu saja.
“Baal, kamu ngeliatin apa sih?”
“DIA NGELIATIN GUE,” jawab (namakamu) dengan suara yang keras.
“DIA ITU PACAR GUE DAN DIA ITU LAGI JADIIN LO SELINGKUHANNYA, AMANDA.”
Iqbaal langsung membulatkan matanya, ia merasakan Amanda menjauh dari sisinya. Apa-apaan gadis itu mengatakan bahwa Iqbaal pacarnya dan menjadikan Amanda sebagai selingkuhan? Iqbaal merasakan hantaman di pundaknya, saat menoleh, ia melihat wajah Amanda menahan marah.
“Apa bener kata cewek itu, Baal? Jadi dia pacar kamu yang sesungguhnya?”
“Bu—“
(namakamu) membuka kacamatanya, lalu menatap sepasang kekasih bermasalah yang berdiri di samping mobilnya itu.
“Amanda, kalo lo ga percaya, lo bisa cek bibir bawahnya dia. Disana robekan di bibirnya jadi lebih besar, karena lo tau? Tadi kita ciuman dan ga sengaja gue gigit bibirnya.”
Amanda langsung memegang dagu Iqbaal, dan matanya terfokus pada bibir bawah pria itu. Ya, setahunya tadi pagi—setelah Iqbaal jatuh—robekan di bibirnya masih terlihat kecil. Tapi sekarang, robekan itu terlihat lebih besar dan agak bengkak. Seperti ada yang benar-benar menggigitnya.
“Aku ga—“ Iqbaal menggelengkan kepala di depan Amanda, tapi gadis itu langsung menampar pipi Iqbaal.
PLAKK
“Lo keterluan! Belum ada satu hari kita jadian, ternyata lo cuma jadiin gue selingkuhan, ha? Terus untuk apa lo pagi-pagi SMS gue dan bilang kalo lo cinta? KITA PUTUS!”
“Harusnya gue tau, ga akan ada cowok yang nembak cewek secara serius lewat SMS! Harusnya gue tanya dulu sama Salsha karena dia salah satu korban permainan hati lo! Dasar mulut penuh bullshit, mendingan lo pergi ke ujung dunia aja sana!”
‘Kalo perlu gausah balik lagi,’ ucap (namakamu) dalam hati.
Iqbaal memegangi pipinya yang merah. Ia memang badger boy, tapi ia tidak akan melakukan kekerasan fisik pada seorang gadis. Tapi rasanya ia ingin menjambakki rambut (namakamu) habis-habisan, gadis itu belum puas juga meski tadi pagi sudah membuat bibir Iqbaal robek lebih lebar.
“Dan Iqbaal!” (namakamu) kembali bersuara. Ia tersenyum miring saat Iqbaal dan Amanda menatapnya tajam.
“Mulai hari ini, kita putus juga kan? BYE!”
Gadis itu tidak lagi menampakkan wajah di jendela. Ia segera melajukan mobilnya lagi, dan meninggalkan sepasang mantan kekasih itu dengan tanda tanya besar.
Iqbaal pasti mengerti, karena ia tahu (namakamu) hanya membalas perbuatannya di hari-hari kemarin. Sementara Amanda menganggap itu sungguhan. Dan tanpa mendengar penjelasan sedikitpun dari Iqbaal, Amanda berlari kembali ke sekolah sembari menangis.
Tangan kanan Iqbaal terkepal marah. “Lo boleh menang kali ini, (namakamu). Tapi, lo ga akan pernah bisa keluar dari masalah yang bakal gua buat untuk lo!"
"Liat aja, pada akhirnya pasti lo yang bakal bertekuk lutut sama gua.”
***
Sembari menunggu Iqbaal yang mandi di kamarnya, Steffi memperhatikan layar ponselnya berkali-kali.
Ada sebuah foto yang membuatnya begitu jengkel dan terganggu. Ia tidak bisa sesering dulu untuk mengunjungi Iqbaal di sekolahnya, karena sebentar lagi Steffi akan memasuki bangku kelas 9 semester 2.
Gadis itu mencuri-curi pandang ke arah ponsel Iqbaal yang tergeletak di meja. Karena mungkin saja di dalam ponsel kakaknya itu bisa ditemukan lebih banyak foto yang membuatnya jengkel dan terganggu.
Ia tahu passwordnya, maka Steffi segera membuka galeri, pesan, dan kontak di ponsel kakaknya. Yang ia incar di galeri adalah foto Iqbaal dan beberapa gadis, ternyata ada. Tapi di folder foto itu tertulis ‘mantan’ berarti bukan gadis-gadis itu yang menjadi saingan Steffi saat ini.
“Tapi pasti ada cewek yang lagi berusaha deketin kak Iqbaal, ataupun sebaliknya...”
Steffi beralih pada pesan. Tentu saja terdapat pesan sayang-sayangan dan tembak-tembakkan disana, hanya saja waktunya beberapa hari lalu dan balasannya tidak semua mengenakkan.
Pesan yang baru saja masuk adalah dari Amanda. Ia menyatakan kecewa karena Iqbaal telah menjadikannya selingkuhan.
“Selingkuhan?” Steffi membulatkan matanya. “berarti kak Iqbaal udah punya pacar lagi sekarang?”
Belum sempat Steffi beralih ke kontak, ia mendengar suara pintu terbuka di kamar atas. Iqbaal sudah selesai mandi rupanya, maka ia segera mengunci ponsel kakaknya itu dan menaruhnya kembali. Ia menghela nafas panjang, lalu berpura-pura asik memainkan ponselnya sendiri.
Iqbaal bersiul sembari mengeringkan rambutnya dengn handuk. Ujung rambutnya jadi terlihat tajam karena masih basah, lalu titik-titik air di sekitar pelipisnya menambah kesan bahwa dia terlihat segar. Pria itu mengenakan celana biru dongker selutut dengan kaos cokelat dengan kancing terbuka semua.
‘WOW!’ Steffi berteriak dalam hati saat Iqbaal duduk di sofa sebelahnya.
“Kamu kok kayaknya serius banget main hp-nya?”
“E-engga kok, kak. Cuma lagi liat timeline aja, kali aja ada cewek yang minta tolong Steffi buat dicomblangin sama kakak.”
“Pas banget tuh! Kakak lagi ga punya pacar nih...” Iqbaal mengerucutkan bibirnya.
Seolah memiliki auto focus di matanya, Steffi langsung menangkap bibir bawah Iqbaal yang bengkak. Ia mencondongkan kepala lebih dekat dengan kakaknya itu, dan benar saja Iqbaal terlihat menutup-nutupinya dengan mengalihkan pandangan.
Steffi langsung memegang dagu kakaknya dengan kencang, lalu jemarinya meraba bagian bibir Iqbaal yang bengkak.
“Aw!”
“Berantem lagi? Sama siapa?” suara Steffi terdengar tegas.
“Jatuh dari—“
“Jangan-jangan... kakak udah berani ciuman sama cewek ya? Siapa cewek yang berani gigit bibir kakak sampe kayak gitu, hah?”
Steffi mendengus. “Pasti ceweknya jelmaan monster!”
Bersambung...
***
@Febyanti_R
Langganan:
Postingan (Atom)