Selasa, 24 Maret 2015

'Sweet Bad Dream' Part 2 (From Facebook Fanspage Andrea's Story)

‘Sweet Bad Dreams’
Part 2
_____________________________
When you feel my heat
Look into my eyes
It’s where my demons hide
It’s where my demons hide
~Imagine Dragon ‘Demons’~
***
(namakamu) terdiam, ia tahu berdebat dengan Iqbaal tidak akan membuat pria itu membukakan pintu untuknya. “Terus mau lo apa, hah?”
“Gua mau lo.”
“Iqbaal, gue ini anak baru di sekolah. Gue cari ruangan kepala sekolah, bukan gudang kayak gini. Dan stop basa-basinya, kalo lo mau uang, gue bisa ngasih berapa pun. Tapi ga gini caranya...” terdengar (namakamu) mendengus kasar.
Iqbaal merasa dadanya sakit karena gadis itu merendahkannya dengan kalimat ‘kalo lo mau uang’. Pria itu memang badboy, tapi bukan berarti ia meminta-minta uang pada orang lain. Maka, ia segera memutar kuncinya kembali, lalu membukanya pintunya lebar-lebar.
Pria itu menghadang (namakamu) yang akan keluar di ambang pintu. Ia merentangkan tangannya dan menatap gadis itu dengan tajam.
(namakamu) menahan nafasnya saat wajah Iqbaal kelihatan marah, dan rahang bawahnya yang mengeras. Gigi Iqbaal bergemelutuk siap menyemburkan kemarahan, namun ia tahan.
“Gua mau lo... ga usah sok jual mahal di depan gua.”
“Gue—“
Iqbaal menaruh telunjuknya di depan bibir (namakamu) dan tatapannya semakin tajam menyelidik ke arah gadis itu.
“Dan lo gausah ngerayu gua pake uang, karena uang bukanlah segalanya, nona (namakamu).”
Belum sempat (namakamu) membalas ucapan Iqbaal, pria itu sudah melangkah menjauh sembari menenteng skateboardnya. Pria itu mendatangi seorang gadis berambut pirang yang sedang berjalan seorang diri, dan tiba-tiba saja ia melingkarkan tangannya di bahu gadis itu.
Awalnya si pirang itu terkejut, namun wajahnya berubah merona saat Iqbaal mengedipkan sebelah mata padanya. Ia juga tersenyum manis.
“Ke kelas bareng ya, sayang?” ucap Iqbaal pada gadis pirang itu.
“Okay...”
Gadis itu balas merangkul pinggang Iqbaal, dan menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. Mereka pun berjalan meninggalkan (namakamu) yang hanya bisa menatap mereka dengan mulut terbuka setengah.
“Ternyata, gue bukan satu-satunya.” Lirih (namakamu) sembari menutup pintu gudang itu.
“dia itu badboy. Jadi perlakuan dia ke setiap cewek yang menurut dia memikat, bakal sama-sama romantis. Dan dia ga bakal ngejalanin satu hubungan pun dengan serius, so... gue ga boleh suka sama dia.”
(namakamu) akhirnya berjalan seorang diri, mencari ruangan kepala sekolah dengan bekal instingnya. Tidak ada satu orang pun yang dapat ia percaya, bisa-bisa mereka semua sama seperti Iqbaal. Namun, baru beberapa meter gadis itu melangkah, ada dua orang gadis yang mendatanginya dengan senyuman.
Yang berkepang satu berucap lebih dulu, “Siswi baru kan?”
“Ya.”
“Ditunggu di ruang kepala sekolah. Ikutin kita aja, ya?” ucap gadis yang rambut hitamnya tergerai.
(namakamu) memang berjalan mengikuti mereka, mungkin perempuan jauh bisa lebih dipercaya. Tapi pikirannya kembali melayang-layang pada sosok Iqbaal.
Bagaimana bisa pria itu menyita perhatiannya saat ini? Bagaimana mungkin (namakamu) bisa berpikir bahwa dia ‘ingin lebih spesial di mata Iqbaal’? Dan kenapa setiap pria itu tersenyum pada gadis lain, (namakamu) merasa ingin marah?
‘Ga. Perasaan gue ke dia sekarang ini bukan cinta pada pandangan pertama, gue cuma...’
“Ini ruangannya. Kalo lo mau, kita bisa jadi temen kok. Gue Bella, dan dia Cassie. Salam kenal, (namakamu).”
‘Ya. Gue yakin gue cuma merasa tertantang buat naklukin hati dia, dan dalam hitungan minggu, gue bakal menangin tantangan itu. Gue bakal taklukin dia.’
Tanpa berucap terima kasih atau tersenyum, (namakamu) meninggalkan keduanya. Ia tidak peduli lagi seandainya ruangannya salah, yang jelas tidak ada lagi Iqbaal disekitarnya.
Dan nyatanya ruangan ini benar-benar ruangan kepala sekolah, karena ada sebuah meja dengan tulisan ‘Mrs. Anne/ Head Office’ diatasnya. Di samping itu juga ada berkas-berkas kepindahan sekolah (namakamu) yang langsung dikenali oleh gadis itu sendiri.
Wanita itu tersenyum, “Kesini, (namakamu). Kamu udah bisa masuk ke kelas sekarang juga, dan diantar sama dia."
“Dia siapa, bu?” tanya (namakamu) sembari berjalan mendekat ke arah meja kepala sekolah.
“Dia ketua kelas yang menjadi kelas kamu nanti.”
(namakamu) membulatkan mulutnya. Dihadapan wanita itu ada seorang pria yang duduk dengan punggung tegak dan salah satu kakinya naik ke atas kursi yang lain. Sepatunya putih bertali merah, dan sepertinya ada yang tidak asing dari pria itu.
(namakamu) berjalan makin dekat, lalu pria itu pun menoleh dengan seringaian yang tajam. Haruskah (namakamu) terkejut dan menahan nafasnya?
“Selamat datang di sekolah ini, nona (namakamu). Seneng bisa ketemu lo setiap hari, karena...”
Iqbaal berdiri dan menyentuh pundak gadis itu berpura-pura hangat. “gua udah pastikan kita satu kelas dan duduk sebelahan.”
***
"Minggir lo, kebo busuk!"
Iqbaal benar-benar mengusir pria malas yang duduk di sebelahnya, lalu ia menaruh tas (namakamu) dengan lembut di kursi itu. Mereka duduk sebelahan dan menjadikan siswa satu kelas ini memandang (namakamu) intens.
Mungkin mereka berpikir bahwa siswa baru ini punya hubungan khusus dengan Iqbaal. Bahkan ketika ingin duduk saja, Iqbaal menarik kursi untuk gadis itu dan tersenyum manis.
"Silahkan duduk, tuan putri (namakamu)."
(namakamu) hanya memutar mata, beberapa detik kemudian ia merasakan Iqbaal mendudukkan diri di kursi sebelahnya dengan tidak santai. Gadis itu memilih untuk memperhatikan seisi kelasnya lebih dulu.
Semua dindingnya tecat biru muda. Terdiri dari 18 pasang meja, dan tentu saja siswanya berjumlah 36 orang. Ada meja guru di dekat papan tulis, lemari di dekat pintu, proyektor dan layarnya.
Alat-alat kebersihan di sudut belakang, pendingin ruangan di atas jendela, jam dinding, dan yang terakhir adalah foto ketua kelas itu sendiri. (namakamu) mendengus, di sebelah foto itu ada karton besar bertuliskan ‘Peraturan dari raja kelas’.
“Kalo lo mau baca peraturannya nanti aja... lagipula gua mau kok kalo disuruh ngejelasin semua peraturannya sama lo.”
“Sorry, gue ga butuh.”
“Sayangnya, salah satu peraturan di kelas ini adalah ‘Setiap bawahan harus mau mendengar ucapan sang raja’ jadi, lo harus mau dengerin apapun yang gua omongin.”
“Lo mau gue pindah tempat duduk?” (namakamu) menatap Iqbaal tajam.
Pria itu mengangkat bahunya sembari tersenyum miring. “Lo pindah, gua juga bakal pindah.”
Iqbaal memutar tubuhnya menghadap ke belakang, sementara (namakamu) hanya melirik pria itu dengan mata menyipit. Ada seorang pria yang duduk tepat di belakang (namakamu), ia kelihatan dingin dan terus-terusan menatap layar ponsel.
Sementara di sebelah pria dingin itu ada seorang gadis, dan... dialah si pirang yang tadi Iqbaal rangkul.
‘Iqbaal gila kali ya! Dia berusaha deketin gue sedangkan pacarnya sendiri duduk dibelakangnya?’ (namakamu) mengumpat dalam hati. ‘ga lama lagi, pasti gue bakal kena masalah.’
“Sha, kalo ada huruf P, U, T, U lagi, terus S... dibacanya apa?”
“Putus.”
“Pinter! Berarti lo udah tau maksud gua kan?”
Salsha menggebrak meja dengan keras, membuat seisi kelas menoleh ke arahnya—kecuali pria dingin di sebelahnya itu. (namakamu) ikut menoleh ke belakang, ia tidak habis pikir dengan pria yang disebelah Salsha.
Entah telinganya tidak berfungsi, tidak ingin ikut campur, atau otot refleksnya lenyap, yang jelas pria itu tidak bergeming sama sekali.
“Lo minta putus sama gue, Baal? Hei! Gue ini cewek high class, udah cocok banget sama lo, Baal. Kenapa lo mutusin gue? Kita baru sehari pacaran, dan kemaren lo bilang lo ga bakal jadiin gue cinta satu harinya lo, tapi kenapa lo mutusin gue seenaknya gini?”
“Gua bosen sama lo, Sha.”
Salsha berdiri dan menatap Iqbaal tidak percaya. “APA? Baru satu hari kita resmi jadian, dan lo udah bilang bosen?"
"Lo kan belum ngerasain gimana gue manja-manja sama lo, bawelin lo, ngedate sama lo, cium lo, gimana bisa lo bilang bosen sama gue?”
“Gua ga mau ngerasain itu dari lo, Sha. Intinya, lo udah ngucapin kata ‘putus’ tadi. Berarti kita udah putus, okay? Dan inget peraturan kelas ini tentang ‘Kalo raja kelas bilang okay, berarti bawahannya harus jawab okay juga’”
Salsha terlihat marah, wajahnya sudah benar-benar merah padam. Saat tangannya terangkat ke atas hendak menampar Iqbaal, pria di sebelahnya itu menahan tangannya dan menatap gadis itu datar.
Inilah pertama kalinya (namakamu) melihat pria itu bereaksi. Mata sipitnya melirik Iqbaal dengan remeh.
“Percuma lo tampar dia." ucapannya dingin dan menusuk.
"Seharusnya lo tampar diri lo sendiri supaya nyadar dari awal kalo dia itu emang cowok yang puas sama cinta satu hari. Katanya lo high class, berarti lo ga sudi ngotorin tangan lo sendiri untuk tampar dia.”
Iqbaal tersenyum miring lagi, ia menatap Salsha seolah tak ada salah sama sekali. Tapi itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba saja, pria dingin itu melayangkan kepalan tangannya ke rahang bawah Iqbaal. Pria itu mengaduh, dan sekarang Salsha-lah yang tersenyum miring.
“Kenapa lo nonjok gua, Ald?” Iqbaal menggebrak meja Aldi dengan tatapan marah.
Pria itu memejamkan matanya, lalu berucap. “Itu cuma balasan dari gua, karena lo udah mutusin mantan kesayangan gua secara cuma-cuma.”
***
“Kakak pulang, Steff!”
Iqbaal pulang ke rumah dan disambut pelukan hangat oleh Steffi. Setelah menaruh skateboard kakaknya di sebelah rak sepatu, Steffi menggamit lengan pria itu menuju ruang TV.
Disana sudah terputar film kesukaan Iqbaal, lalu di mejanya ada es jeruk yang menggiurkan, dan beberapa cookies cokelat buatan Steffi. Steffi sudah berganti pakaian, ia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana abu-abu selutut.
Iqbaal pun membuka kancingnya satu persatu sembari duduk di sofa. Steffi yang duduk di sebelahnya terus memperhatikan kakaknya yang sedang kepanasan itu. Setelah seluruh kancingnya terbuka, Steffi dapat melihat dada Iqbaal yang bidang terbentuk di kaos merah—yang pria itu kenakan dibalik kemeja sekolahnya.
“Panas banget ya, Steff? Apa AC-nya belum dinyalain?”
“Udah dinyalain kok, kak. Mungkin belum begitu kerasa, soalnya kan kak Iqbaal abis panas-panasan naik skateboard.”
“Kipasin aku dong, Steff. Aku mau curhat sekalian nih,”
“Curhat tentang cewek?”
“Iya.”
Steffi mengambil buku tipis di laci meja, ia menggunakan buku itu untuk mengipasi Iqbaal. Pria itu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa sembari memejamkan mata karena lelah.
Dilihat lebih teliti lagi, ternyata ada warna kebiruan di rahang bawah Iqbaal. Steffi mengernyit, apakah kakaknya itu berkelahi lagi? Apa penyebabnya kalau bukan karena seorang perempuan?
“Kakak berantem lagi?”
“Ga, cuma kepentok meja tadi di sekolah.”
“Ga boong kan?”
Iqbaal membuka matanya, lalu mengelus-ngelus puncak kepala Steffi. “Okay, aku jujur. Aku ditonjok gara-gara aku mutusin cewek secara sepihak dan kecepetan.”
“Siapa ceweknya, kak?” Steffi langsung antusias.
“Salsha, dan yang nonjok aku itu Aldi.”
“Gapapa deh kakak ketonjok, asalkan udah putus sama kak Salsha. Kan aku udah bilang kak, jangan pacaran dulu deh."
"Cewek zaman sekarang itu banyak yang cuma main-main, mereka cuma mau pamournya naik, nambah jumlah mantan, terus nyakitin sebelum disakitin. Tapi aku seneng karena kak Iqbaal udah berhasil mutusin dia sebelum dia nyakitin kakak.”
Senyuman Iqbaal terlihat jahil, “Jangan-jangan kamu termasuk cewek yang kayak gitu, ya? Hayooooo” telunjuk pria itu menoel hidung mancung Steffi.
“Ish, ga mungkin lah aku kayak gitu! Kalo seandainya iya, aku udah nyakitin hati kakak dari dulu, ninggalin kakak, atau pura-pura jadiin kakak pacar di depan mantan aku. Aku ga mau kakak terluka sama siapapun...”
‘Kecuali sama aku.’ Lanjut Steffi dalam hatinya.
“Perhatian banget sih Steffi kesayangannya kak Iqbaal ini,”
“Cium dong, kak hahahahaha”
Steffi awalnya hanya berucap main-main, tapi Iqbaal menganggapnya serius. Maka pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Steffi dan menempelkan bibirnya di dahi gadis itu. Dalam hati, Steffi menginginkan ciuman itu turun ke bibirnya, sayangnya Iqbaal kembali duduk seperti semula dan memakan cookies cokelat.
“Kakak katanya mau curhat?”
“Oh iya, jadi lupa.” Iqbaal menepuk dahinya pelan.
“Jadi gini, aku ketemu lagi sama cewek yang waktu itu surfing bareng aku. Aku ngerasa aku perlu suka sama dia, dan harus bisa buat dia suka balik."
"Makanya tadi aku ga ragu-ragu buat mutusin Salsha, karena aku tau cewek baru itu bisa ngebuat aku lebih seneng. Kira-kira, dia bakalan suka sama aku ga ya, Steff?”
“Sifatnya kayak kak Salsha?”
“Engga. Dia itu suka nipu perasaan. Awalnya buat aku seneng, tapi ujung-ujungnya dia bilang dia cuma boong."
"Suka sok jual mahal, dan ga keliatan tertarik sama kakak. Tapi dia fashionable banget, dateng ke sekolah aja pake kacamata sama mobil sport.”
“Penampilan bisa nipu, kak. Itu udah jadi bukti awal kalo dia emang ga bakal cinta sama kakak, cewek kayak gitu jangan ditaksir, kak. Bisa aja suatu hari dia bilang cinta ke kakak, terus pas mau putus dia bilang kalo selama ini dia boongin kakak. Mendingan kakak cari cewek yang kayak aku...”
“Kok kayak kamu? Kan ga mungkin aku cinta sama adik aku sendiri, Steff. Ah udahlah,”
Iqbaal kembali menelan cookies-nya. “lagipula masih ada hari-hari selanjutnya buat aku naklukin dia. Kamu tinggal tunggu kabar baiknya aja ya, Steff.”
“Tapi kalo cewek itu—“
“Engga kok. Seandainya aku patah hati, kamu tau kan sama siapa aku bakal curahin semuanya?”
Steffi mengangguk sembari tersenyum lebar. “Udah pasti sama aku.” Ucapnya dengan penuh percaya diri dan Iqbaal hanya tersenyum untuk jawaban dari gadis itu.
***
(namakamu) datang lebih pagi daripada Iqbaal, ia tidak ingin melihat pria itu mengendarai skateboardnya sampai di kelas.
Tapi mau bagaimana pun juga, akhirnya ia melihat pria itu mengendarai skateboardnya dan berhenti ketika sampai di tempat duduknya. Kelas masih lengang, baru terisi oleh pria sedingin es itu, (namakamu), dan juga Iqbaal.
Lagi-lagi si es sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat culun dengan pakaian pramuka-nya itu, karena ia memasukkan ujung kemejanya ke dalam celana. Berbeda jauh dengan Iqbaal yang sudah seperti siswa ingin tawuran.
Dari bawah lebih dulu. Sepatu pria itu sama sekali tidak ditali, jadi ia bisa terjatuh kapan saja jika ada yang menginjaknya. Lalu kaos kakinya malah berwarna putih, celana cokelat panjangnya digulung sampai sebatas lutut.
Kemejanya dikeluarkan dengan beberapa kancing atas terbuka, memperlihatkan kaos putih yang ia kenakan. Dasi merah putihnya ia gunakan sebagai ikat kepala, dan kantung kemejanya ia gambar tengkorak dengan spidol merah.
“Woi, (namakamu)!” panggil pria itu.
(namakamu) tidak menoleh, ia menatap lurus ke arah papan tulis yang kosong. “Siniin buku bahasa inggris lo, ada PR kan?”
Gadis itu tetap diam, tapi pria di belakangnya jadi memperhatikan perbincangan keduanya. “Lo pura-pura ga denger atau kuping lo ga bisa nangkep suara cowok ganteng? Kalo lo ga mau ngasih, gua yang bakal ngambil sendiri.”
Iqbaal tidak memberikan (namakamu) kesempatan untuk menjawab, pria itu langsung mengambil tas gadis itu dan mengambil buku yang ia maksud.
(namakamu) mencoba menggapai bukunya, tapi Iqbaal langsung berlari secepat mungkin keluar ruangan. Gadis itu menggeram, ia balik mengambil tas Iqbaal dan mencari buku bahasa Inggris milik pria itu.
Nyatanya tidak ada, berarti pria itu tidak bermaksud meminjam bukunya untuk disalin, lalu apa niatnya? Apakah pria itu akan mengganti nama (namakamu) dibuku itu menjadi nama Iqbaal?
“Gua tau apa yang bakal dia lakuin.” Pria dingin itu bersuara. “dia bakal robek buku lo, terus masukkin ke tempat sampah. Dan pas ditanya PR sama guru, dia bakal nunjuk lo ga bawa dan dengan senang hati dia bakal bilang kalo dia juga ga bawa.”
(namakamu) menatap pria sipit itu dengan intens, “Maksud dia kayak gitu apa sih?”
“Dia mau dihukum bareng lo, bodoh.”
Bersambung...
***
@Febyanti_R

Tidak ada komentar:

Posting Komentar